Tampilkan postingan dengan label Film Making. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film Making. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Januari 2009

Metode Analisis Film menggunakan Teori Strukturalis

Penulis: Milhan Santoso
Sumber : http://milhan16.wordpress.com


Historical Overview Structuralism (menyingkap struktur berbagai aspek pemikiran, ungkapan dan tingkah laku)

Pada awal ini kelompok kami ingin memaparkan terlebih dahulu bagaimana suatu kajian kualitatif terhadap film ini muncul dan berbagai teori-teori yang terkait dengan sejarah dan teori analisis dilm itu sendiri. Jadi kemunculan awal suatu kajian strukturalis terhadap film diawali bukan terhadap analisis film tetapi film adalah suatu bentuk yang dikemas dari berbagai unsur seperti bahasa dan cara pengmabilan gambar. Teori strukturalis diawali oleh kajian terhadap ilmu bahasa, yang muncul pada zaman pertengahan di Eropa dengan nama gerakan kritis (abad 20 pertengahan)

Yang didasarkan pada teori-teori ilmu bahasa adalah suatu sistim yang disatukan dari tanda-tanda. Jadi mereka berusaha untuk melihat bagaimana suatu sistem bahasa ini terbentuk yang dimunculkan dengan tanda-tanda yang bersatu. Gebrakan ilmu ini terlihat jelas ketika seorang tokoh bernama Levi-Strauss yang memaparkan bagaimana tanda-tanda dari suatu sistem bahasa yang dibahas secara budaya. Kultur-kultur, seperti bahasa-bahasa, dapat dipandang sebagai sistem dari tanda-tanda &yang diteliti dalam kaitan dengan menggunakan istilah hubungan-hubungan yang struktural antar unsur-unsur mereka. Muncullah gerakan Central binary oppositions yang mengungkapkan tentang logika yang tak sadar atau “tatabahasa” dari suatu sistim pandang teks-teks sebagai sistem dari tanda-tanda yang saling berhubungan dan mencari untuk membuat logika eksplisit mereka yang yang tersembunyi dengan tokoh-tokohnya: Foucault, Lacan, Barthes dengan bidang-bidang dari studi: semiotik & narratology. Dari kemajuan bidang analisis tata bahasa inilah suatu kajian terhadap film mulai berkembang dengan menggunakan analisi semiotik yaitu tanda-tanda yang digunakan atau analisis secara narratology, mengungkap makna narasi di balik teks dan percakapan suatu pertunjukan yang lebih sering silakukan pada suatu teater.

Perkembangan suatu narrative dan semiotik analisi mabawa hawa segar di dalam dunia ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan mengangkat suatu cara berpikir, suatu cara pengawasandian dan mengerti, di dalam film dan teater .Suatu cara melakukan (gerakan seni di dalam yang terlambat; almarhum enam puluh bahwa menemukan suatu rumah terutama di dalam teater &film) .Berbagai hal harus dilihat pada konteks dari struktur-struktur yang lebih besar bahwa mereka menjadi bagian.Arti tidak dimasukkan oleh berbagai hal tetapi diberikan kepada mereka melalui struktur-struktur yang membentuk konteks-konteks mereka

Ini Adalah STRUKTUR-STRUKTUR yang MENCIPTAKAN Arti Dari BERBAGAI HAL (bahwa berbagai hal ini mempunyai maksud(arti sendiri di luar konteks-konteks dari mereka maksud(arti)

Bagaimana film-film menyampaikan maksud(arti melalui pemakaian mengkode dan konvensi-konvensi bukan berbeda kepada jalan bahasa-bahasa digunakan untuk membangun arti komunikasi

Christian Metz (Cine-Semiology)

Christian Meltz merupakan tokoh di bidang Semiotic Cinema di mana ia memunculkan bebrapa bahasan mengenai pola pengambilan gambar dan makan di balik pengambilan gambar tersebut. Ia mengungkapkan bahwa cinema bukan suatu sistim bahasa tetapi itu adalah suatu bahasa (suatu tanda yang termotivasi) .Bidikan camera/cinematic seperti kata selagi urutan seperti kalimat .Jadi bidikan kamera itu bila dirututkan menjadi satu akan sama seperti kata-kata yang disusun hingga menjadi suatu kalimat. Ia banyak menjelaskan mengenai shot atau yang kita kenal di Indonesia adalah take gambar untuk film. Shot bersifat tanpa batas dalam jumlah .Shot adalah ciptaan-ciptaan pembuat film .Satu shot banyak sekali dari informasi. Shot itu adalah satu unit yang actualised (hasilkan satu penyajian yang tepat tentangnya makna termaksud) .Shot, tidak seperti kata-kata, jangan mendapatkan maksud yang dapat dibandingkan satu dengan lain.Memilih film dan kombinasikan gambaran-gambaran dan bunyi-bunyi untuk membentuk syntagmas kategori-kategori Syntagmatic untuk film yang naratif (delapan sintagma-sintagma kunci filmic berdasar pada jalan,cara ruang(spasi pemesanan naratif &waktu)

Jenis Pengambilan Gambar

1.The autonomous shot (e.g. establishing shot, insert)

2.The parallel syntagm (montage of motifs)

3.The bracketing syntagm (montage of brief shots)

4.The descriptive syntagm (sequence describing one moment)

5.The alternating syntagm (two sequences alternating)

6.The scene (shots implying temporal continuity)

7.The episodic sequence (organised discontinuity of shots)

8.The ordinary sequence (temporal with some compression)

Elemen-Elemen Dasar Semiotika

· Komponen tanda (penanda dan petanda)

· Aksis tanda (paradigma dan sintagma)

· Tingkatan tanda (denotasi dan konotasi)

· Relasi antar tanda (metafora dan metonimi)

Melalui keempat hal dia atas kita dapat memaknakan suatu tanda-tanda yang ada di dalam suatu film, seperti contohnya film Devil Wears Prada di sana sang sutradara menampilkan sesosok bos yang memiliki kelakuan seperti setan. Untuk memperkuat nilai bagaimana perilaku dari sang bos yang begitu sadis terhadap bawahannya, ia menggunakan tanda sepatu warna merah yang dipakai oleh bos tersbut juga di dalam promosi fil yang menurut budaya Amerika warna merah dan merupakan lambang setan, di sana bila mera menggambarkans etan sering menggunakan warna merah. Dengan melihat elemen-elemen dasar ini kita dapat mebelah-belah film menjadi komponen kecil untuk melihat makna dari film itu sendiri.

4 spesifikasi dalam film :

· Setting

· Nama lokasi

· Kondisi pencahayaan

· Tipe pengambilan gambar

Tipe pengambilan gambar konvensional :

· Jarak kamera ke objek

· Ukuran objek

· Jenis pengambilan gambar :

· Extreme close up à Spesifik; mata, mulut

· Close up, close shot à Gambar Wajah

· Big close up à bagian atas alis hingga dagu

· Medium close up à pusar ke atas

· Full shot à seluruh badan

· Medium full shot à ¾ objek : lutut ke atas

· Long shot à diambil penuh, diberi sedikit space kosong

Suara yang mewakili adegan yang berlangsung:

· Diegetic sound : berasal dari sumber saat adengan berlangsung

· Non diegetic sound : tidak berasal dari sumber saat adengan berlangsung

· Bleed over : suara yang muncul saat adegan berikutnya atau sebelumnya

· Voice over : dari narator, tidak menggerakkan bibir

· Off screen diegetic : suara dari lokasi adegan namun tidak tampak

· Filter slight : adegan percakapan telpon

Narration dibagi menjadi 2, yaitu :

· Off screen narrator à tidak terlihat

· On secreen narrator à narrator terlibat

Dibagi lagi menjadi 2 :

· In a homodiegetic narrative à ikut main

· In a heterodiegetic narrative à tidak ikut main / bukan tokoh

Focalization à cara untuk mempresentasikan informasi dari sudur pandang seseorang

Goof à kesalahan produksi, mengganggu, menghalangi efek melihat yang sebenarnya

Metode analisis film :

· Basic approach à menonton kemudian menganalisis film tersebut

· Metode analisis semiotic à mempelajari system, aturan, tanda – tanda, dan konvensi

· Double viewing technique à menonton 2 kali yang lebih terfokus pada “how and why”

Rabu, 24 Desember 2008

Crew Produksi

Agent (Agent Model) : Seseorang yang dipekerjakan oleh satu atau lebih talent agency atau serikat pekerja untuk mewakili keanggotaan mereka dalam berbegosiasi kontrak individual yang termasuk gaji, kondisi kerja, dan keuntungan khusus yangtidak termasuk dalam standard guilds atau kontrak serikat kerja. Orang ini diharapkan oleh para aktor/aktris untuk mencarikan mereka pekerjaan dan membangun karir mereka
Art Departement : Bagian artistik. Bertanggung jawab terhadap perancang set film. Seringkali bertanggung jawab untuk keseluruhan desain priduksi. Tugasnya biasanya dilaksanakan dengan kerjasama yang erat dengan sutradara dan cameraman

Asst. Director :Seorang asisten sutradara film yang memperhatikan administrasi, hal yang penting sehingga departemen produksi selalumengetahui perkembangan terbaru proses pengambilan film. Ia bertanggung jawab akan kehadiran aktor/aktris pada saat dan tempat yang tepat, dan juga untuk melaksanakan instruksi sutradara.

Art Director :Pengarah artistik dari sebuah produksi

Asisten Produser :Seorang yang membantu produser dalam menjalankan tugasnya

Broadcaster :Sebutan untuk seseorang yang bekerja dalam industri penyiaran

Best Boy :Asisten Gaffer atau asisten Key Grip.

Boom Man :Seorang yang mengoperasikan mikrofon boom.

Booth Man :Operator proyektor film. Orang yang bekerja dalam ruang proyeksi.

Camera Departement :Bertanggung jawab untuk memperoleh dan merawat semua peralatan kamera yang dibutuhkan untuk memfilmkan sebuah motion picture. Juga bertanggung jawab untuk penanganan film, pengisian film, dan berhubungan dengan laboratorium pemrosesan.
Cameraman :- First Cameraman sering disebut sebagai Penata Fotografi (Director of Photography) atau kepala kameramen, bertanggung jawab terhadap pergerakan dan penempatan kamera dan juga pencahayaan dalam suatu adegan. Kecuali dalam unit produksi yang kecil, Penata Fotografi tidak melakukan pengoperasian kamera selama syuting yang sesungguhnya.- Second Cameraman sering disebut sebagai asisten kameramen atau operator kamera, bertindak sesuai instruksi dari kameramen utama dan melakukan penyesuaian pada kamera atau mengoperasikan kamera selama syuting.- First Assistant Cameramen sering disebut Kepala Asisten untuk pada operator kamera. Seringkali bertanggung jawab untuk mengatur fokus kamera (untuk kamera film)- Second Assistant Cameraman, menjadi asisten operator kamera.

Cinematographer (Sinematografer) :Penata Fotografi. Orang yang melaksanakan aspek teknis dari pencahayaan dan fotografi adegan. Sinematografer yang kreatif juga akan membantu sutradara dalam memilih sudut, penyusunan, dan rasa dari pencahayaan dan kamera.

Costume Designer :Orang yang merancang dan memastikan produksi kostum secara sementara maupun permanen untuk sebuah film.

Dialogue Coach or Dialogue Director :Orang dalam set yang bertanggung jawab membantu para aktor/aktris dalam mempelajari kalimat mereka selama pembuatan film. Mungkin juga membantu pengaturan dialog.

Director : Orang yang mengontrol tindakan dan dialog di depan kamera dan bertanggung jawab untuk merealisasikan apa yang dimaksud oleh naskah dan produser.

Editor :Sebutan bagi seseorang yang berprofesi sebagai ahli pemotongangambar video dan audio.
Editorial Departement :Divisi dimana semua potongan film yang telah dihasilkan digabungkan sehingga membentuk urutan yang koheren, kadang dengan bantuan asisten sutradara atau produser.

Electric Departement :Bertanggung jawab terhadap penjagaan dan penyediaan segala alat elektrik. (misalnya: lampu, kabel, dan lain sebagainya) untuk kebutuhan film.

Engineering :Sebutan dalam pengerjaan dan pembagian kerja dalam masalahteknis penyiaran
Film Loader :Pengisi Film. Anggota tim kamera kadang adalah asisten kameramen yang mengisi film yang belum diekspose ke dalam magazine dan mengeluarkan film yang telah diekspose.

Floor Director :Seseorang yang bertanggungjawab membantu mengkomunikasikankeinginan sutradara dari master control ke studio produksi

Gaffer :Pemimpin electrician yang bertanggung jawab di bawah Director of Photography mengenai pencahayaan set. berbagai bentuk dan ukuran.

Green Departement : Bertanggungjawab untuk menyediakan pepohonan, semak, bunga, rumput, dan benda-benda hidup lainnya baik yang asli maupun buatan.

Hairdresser : Spesialis penata rambut untuk film. Seorang hairdresser mungkin bekerja dengan penata rambut laki-laki maupun perempuan.

Hairdresser Departement : Bertanggungjawab atas kebutuhan rambut asli maupun wig untuk para aktor dan aktris.

Key Grip : Orang yang memimpin para pekerja grip.
Make-Up Departement :bagian yang bertanggung jawab terhadap penampilan aktor/aktris agar sesuai dengan kebutuhan skenario pada saat syuting.

Music Departement : Bertanggungjawab dalam pengaturan atau menyediakan musik yang akan digunakan dalam film.

Producer : Sebutan ini untuk orang yang memproduksi sebuah film tetapi bukan dalam arti membiayai atau menanamkan investasi dalam sebuah produksi. Tugas seorang produser adalah memimpin seluruh tim produksi agar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan bersama, baik dalam aspek kreatif maupun manajemen produksi dengan anggaran yang telah disetujui oleh executive producer.

Production Departement : Bagian yang menentukan batasan biaya dan menangani persiapan dan pelaksanaan atas segala keperluan dalam sebuah produksi.

Production Assistant : Bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi dilapangan selama proses produksi.
Production Manager : Orang yang bertanggung jawab atas detail produksi dari awal sampai produksi itu selesai.

Production Unit : Terdiri dari sutradara, kru kamera, kru tata suara, bagian listrik dan semua orang yang diperlukan dalam suatu produksi.

Prop Man : Bertugas untuk memastikan bahwa properti ada ditempat yang seharusnya pada saat dibutuhkan untuk suatu produksi.
Research Departement : bagian riset yang terdiri dari orang-orang yang menilai otentisitas artikel, benda, kostum.

Script Supervisor, Script Clerk : Bertanggungjawab untuk mencatat seluruh adegan dan pengambilan gambar yang diproduksi. termasuk semua informasi yang diperlukan seperti durasi, arah gerakan, penagrahan mimik wajah, penempatan aktor/aktris dan properti, serta gerakan fisik yang harus disesuaikan aktor/aktris dalam semua cakupan yang berurutan untuk kemungkinan pengambilan gamabr ulang. Semua informasi ini dimasukkan dalam salinan naskah milik supervisi naskah dan digunakan oleh editor ketika tahap editing. Dalam salinan ini juga dimasukkan catatan dari sutradara untuk editor.

Still man, Photographer : Bertanggungjawab atas publiitas dan pembuatan foto set serta lokasi. Dapat juga digunakan pada kesempatan tertentu.

Transportation Departement :Bertanggungjawab terhadap semua kendaraan yang digunakan oleh kru dan pemain selama syuting berlangsung. Dalam hal ini termasuk antar dan jemput kru atau pemain.

VTR Man : Orang yang mengoperasikan VTR (Video tape Recorder) selama proses pembuatan acara televisi.

Wardrobe Departement : Bertanggungjawab atas pemilihan kostum yang akan dipergunakan untuk produksi.

sumber: pojokspy.blogspot.com

Empat Points menjadi Profesional TV/Filmmaker

Sebagai seorang profesional Video maker atau Filmmaker, kita seringkali harus bekerjasama dengan berbagai profesional lain (kru, DOP, Produser, Sutradara, Penulis Skenario, Penata Artistik, dll) dalam proyek dan produksi yang berbeda-beda.
Dan keberagaman ini sangat penting untuk tetap menumbuhkan kreativitas seni visual yang "Fresh" dan "Different" sehingga hasil akhirpun menjadi sebuah karya yang sesuai dengan production design yang diinginkan. Untuk itu, bila anda ingin maju, sebaiknya hindari bekerjasama dengan tim langganan yang itu-itu saja. Atau bila sudah ada tim yang solid, cobalah bereksplorasi dengan profesional lain untuk mendapatkan penciptaan-penciptaan baru. Steven Spielberg saja, tidak pernah mempunyai langganan tim produksi yang solid. Bahkan dalam karyanya Schinder List, Spielberg justru bekerjasama dengan profesional dokumentaris yang kuat dalam produksi dokumenter.
Kunci utama keberhasilan sebagai seorang profesional ada Empat Points:
1.Skill
Skill, ini persyaratan utama. Anda wajib menguasai skill dalam bidang profesi anda baikuntuk teknis maupun non teknis. Biasanya Skill bisa dipelajari di berbagai sekolahTV/Film, bisa juga dengan berguru pada para senior dan mencari pengalaman.
2.Network
Sedangkan Networking dibutuhkan agar anda masuk ke dalam jaringan industri yang mengakui skill anda.
3.TeamWork
Kalau sudah mendapatkan Network maka yang diuji adalah kemampuan anda untuk Team Work dengan tim produksi yang selalu berbeda, bukan hanya dengan orang yang itu-itu saja. Kalau anda tidak dapat bekerjasama dengan orang lain, maka Networking ini akan terhenti dengan sendirinya. Dan anda tidak diakui lagi sebagai seorang Profesional.
4.Etika
Yang terakhir adalah Etika! nah ini sering dilupakan oleh para tv maker/filmmaker instant yang terburu-buru ingin segera tampil sebagai profesional. Etika ini tumbuh dari bawah, bila anda memulai karir anda sebagai seorang asisten produksi atau kru unit atau kru lighting dsb maka anda akan merasakan bekerja sebagai kru dilapangan. Ini akan menumbuhkan rasa solidaritas dan etika ketika anda menjadi profesional. Bila tidak, anda akan terbuang dari industri hanya karena tidak punya etika yang baik. Etika ini juga termasuk dengan tata cara bekerja, menjaga kepentingan klien, tata bahasa, menjaga networking dengan para senior, dsb.
Sesungguhnya banyak anak2 muda kreatif bahkan punya modal finansial yang kuat untuk maju. Tapi mereka terjungkal karena tidak dimodali keempat points diatas. Sekarang saja, puluhan ribu anak2 muda kuliah broadcast, komunikasi dan film di dalam dan diluar negeri.
Ratusan lainnya membeli peralatan digital dan langsung berkarya.... namun bila tidak ada Skill, Network, TeamWork dan Skill... you will be gone no matter what.....
Semoga bermanfaat

sumber: pojokspy.blogspot.com

Cahaya dan Pencahayaan (1)

oleh : Supriyadi

Shooting adalah melukis dengan cahaya. Unsur cahaya berarti sangat penting dalam pembuatan film maupun acara televisi. Cahaya tidak selalu berurusan dengan lampu. Ada sumber cahaya lain selain dari sumber lampu. Secara sederhana ada dua jenis sumber pecahayaan, yakni pencahayaan alami (natural) dan pencahayaan buatan(artificial).

Cahaya merupakan gelombang elektromagnestis yang diterima oleh indera penglihat (mata) yang kemudian diteruskan ke otak yang akan merespon, menanggapi ransangan cahaya terebut. Sederhanya, tanpa cahaya maka benda tidak akan kelihatan. Atas dasar itulah, produksi film dan video memerlukan cahaya agar subyek bisa terlihat.

Pencahayaan televisi dan film memiliki fungsi-fungsi berikut:
• Menyinari obyek/subyek
• Menciptakan gambar yang artistik,
• Menghilangkan bayangan yang tidak perlu
• Membuat efek khusus.

Menyinari objek artinya memberikan pencahyaan agar objek atau subjek bisa terlihat jelas sesuai konsep film itu sendiri. Tidak semua bayangan itu diperlukan dan tidak semua bayangan tidak diperlukan. Dengan pencahayaan tetentu bayangan bisa dihilangkan, dikurangi,atau bahkan ditambah. Perlu tidaknya bayangan atau shadow, lagi-lagi sangat tergantung dari konsep film itu sendiri.

Three Points Lighting
Ini sudah menjadi rumusan atau formula dasar sebuah pencahayaan dalam produksi video, film, dan foto. Tiga poin penting itu terdiri atas : Key Light, Fill Light, Back Light.

Key Light adalah pencahayaan utama yang diarahkan pada objek. Keylight merupakan sumber pencahayaan paling dominan. Biasanya keylight lebih terang dibandingkan dengan fill light. Dalam desain 3 poin pencahyaan, keylight ditempatkan pada sudut 45 derajat di atas subjek.

Fill Light merupakan pencahyaan pengisi, biasanya digunakan untuk menghilagkan bayangan objek yang disebabkan oleh key light. Fill light ditempatkan berseberangan dengan subyek yang mempunyai jarak yang sama dengan keylight. Intensitas pencahyaan fill light biasanya setengah dari key light.

Back Light, pencahayaan dari arah belakang objek, berfungsi untuk meberikan dimensi agar subjek tidak “menyatu” dengan latar belakang. Pencahyaan ini diletakkan 45 derajat di belakang subyek. Intensitas pencahyaan backlight sangat tergantung dari pencahayaan key light dan fill light, dan tentu saja tergantung pada subyeknya. Misal backlight untuk orang berambut pirang akan sedikit berbeda dengan pencahayaan untuk orang dengan warna rambut hitam.

Selain 3 poin pencahayaan tadi masih ada jenis pencahyaan lainnya, yakni Background Light dimaksudkan agar setting/panggung tetap bisa kelihatan dengan baik.

Arah Cahaya
Arah cahaya dari pencahayaan akan bergantung pada ketinggian dan sudut dari sumber cahaya tadi. Dari atas, bawah, atau rata dengan obyek? Dengan demikian kita akan tahu bayangan yang dihasilkan cahaya tadi jatuh dimana. Peletakan sumber cahaya di atas subyek akan menghasilkan efek yang berbeda jika dibandingkan dengan peletakkan sumber cahaya dari arah bawah subyek. Arah pencahyaan ini biasanya disebut sebagai down angle dan up angle. Dengan down angle akan menghasilkan bayangan yang jatuh kea rah tubuh (kalau subyeknya orang). Sebagai contoh, konsep down angle bisa dilakukan pada scene interograsi, akan kelihatan dramatis. Sedangkan up angle akan menghasilkan pencahayaan yang kurang lazim, namun dengan penempatan pencahayaan seperti ini subyek akan kelihatan powefull dan gagah.


gambar dari http://www.dvxuser.com/

Kualitas Cahaya Kualitas pencahayaan berkaitan dengan keras atau lembutnya pencahyaan itu sendiri. Secara garis besar ada dua kualitas pencahayaan, yaitu hard light dan soft light. Hard light mempunyai karakteristik pencahyaan yang kuat dimana shadow atau bayangan lebih terlihat jelas. Softlight memiliki karakter sebaliknya, antara pencahyaan dengan bayangan hanya memiliki perbedaan yang tipis.

Rasio Pencahayaan
Lighting Ratio merupakan perbandingan antara brightness dan lightnest. Misalnya perbandingan 2:1, dimana pencahayaan area terang dua kali lipat dibanding area gelap. Teknologi video memungkinkan sampai pada rasio 4:1, area terang memiliki intensitas 4 kali lebih terang dibandingkan area gelap. Jika lebih dari itu, maka unsur detail bayangan atau shadow akan hilang.

Kontrol Cahaya
Ini merupakan metode untuk menambah atau mengurangi pencahayaan dari sumber cahaya. Penambahan atau pengurangan ini untuk menghasilkan efek tertentu. Misalnya efek cahaya matahari yang memancar masuk pada jendela kamar tidur, digunakan translucent yang ditempelkan dekat sumber cahaya.

Mengukur Intensitas
Intensitas cahaya yang yang dihasilkan dari key light, fill light,serta backlight bisa diukur oleh sebuah alat yakni Lightmeter. Ada dua jenis alat ini yaitu Incident and Reflectant. Incident diperuntukkan untuk mengukur intensitas cahaya yang “jatuh” pada subjek. Sedangkan Reflectant dipergunakan untuk mengukur intensitas cahaya yang dipantulkan oleh subyek.

Jenis-Jenis Lighting Banyak sekali jenis lampu yang digunakan dalam proses pengambilan gamar atau shooting. Jenis lampu itu terdiri atas :

Blonde :1000-2000 watt, biasanya digunakan sebagai pencahayaan flood untuk area yang luas
Readhead : 650 - 1000 watt, digunakan sebagai key flood untuk area yang luas
Pepper Light : 100 - 1000 watt, lampu dengan intensitas rendah digunakan khusus untuk key atau fill light
HMI : ini merupakan jenis lampu kualitas tinggi
Hallogen : 100 - 500 watt, digunakan sebahgai key flood untuk area luas, jenis lampu ini biasanya digunakan untuk produksi dengan budgeting rendah.
Fresnell : jenis lampu yang memiliki lensa khusus yang memancarkan cahaya



Temperatur Warna


Temperatur Warna merupakan kesan yang ditimbulkan oleh cahaya terhadap sebuah obyek ketika cahaya itu mengenai obyek. Ukuran temperatur warna dinyatakan dalam satuan derajat Kelvin (K). Semakin besar ukuran derajat Kelvin, maka warna obyek semakin putih, kebalikkanya maka obyek akan terlihat semakin menguning.

sumber: pojokspy.blogspot.com

Creative dan Producer

Dalam industri Media Televisi, ada bermacam-macam istilah dan jabatan Produser seperti Line Producer, News Producer, Supervising Producer, Creative Producer, Producer/Director dll. Walau istilah ini berbeda, namun "job description" nya seringkali sama atau mirip. Tentunya, semua istilah ini disesuaikan dengan Sistem dan Manajemen Penyiaran yang dipakai, apakah memakai American System atau Hongkong System ataupun Mix keduanya. Bahkan, kalau perlu dibuat istilah dan Job Description baru yang sesuai dengan kebutuhan misalnya Segment Producer atau Production Specialist (dipakai oleh VOA).
Namun secara umum, Jenis Produser terbagi dalam 4 kategori
1. Producer who create the content
Ini adalah para kreator dibalik program2x TV drama dan non-drama (variety show, reality show, games, quiz, musik, magazine show,etc). Mereka adalah orang2x kreatif yang berada di departemen Produksi/Content Acara.
2. Producer who manage administration and money
Produser ini dikenal sebagai produser lapangan yang profesional dalam manajemen administrasi (kontrak, proposal, jadwal, dll) dan finansial. Dibutuhkan talent kepemimpinan yang kuat untuk Produser ini.
3. Producer who sell programming and work on marketing
Biasanya Produser ini berada dibawah Departemen Programming atau Marketing. Mereka ini yang membangun dengan kreatif berbagai paket2 program tv agar laku dijual ke sponsor dan disukai publik.
4. Producer who produce News and Sport
Produser ini adalah para Jurnalis Televisi yang mampu memproduksi berita2/feature yang akurat sesuai dengan filosofi dari jurnalistik yaitu aktual dan faktual. Jadi, pengembangan berbagai istilah dari Produser, bebas saja asalkan sesuai dengan kebutuhan dari manajemen siaran yang dipakai....
Reference:
- Get on TV! by Jacqie Jordan, Source book Inc, Naperville > Illinois.2006 - Pengetahuan dan Pengalaman pribadi.

Nah sampai sekarangpun tiap Stasiun TV punya nama sendiri utk job desk tersebut, tp tugas dan fungsinya sama.
Creative dan Producer? Di Departemen Produksi?
Yang pasti dua-duanya sih orang Kreatif, tapi dibedakan pada detil job descriptionnya sesuai dengan sistem penyiaran yang dipakai. Misalnya, di Indosiar dikenal profesi Research Writer -RW-(mirip dengan TVB Hongkong) yang mempunyai Job Description sebagai penulis skenario non-drama. RW ini adalah orang kreatif yang menciptakan berbagai ide2 program televisi untuk Variety SHow, Quiz, Musik,GameShow, Talk Show,Magazine,Reality TV, dsb. Tugasnya merancang program yang bisa dijual ke iklan. Nah, seorang RW mempunyai karir meningkat sebagai Supervisor Produksi hingga Executive Producer. Tapi tidak menjadi Producer karena di Indosiar, seorang producer juga merangkap sebagai seorang Program Director (Pengarah Acara), dan jabatan ini disebut Producer/Director. Jadi, dalam sebuah produksi maka Producer/Director bekerjasama dengan Research Writer untuk menciptakan sebuah karya kretif. Dengan kata lain, Producer/Director bertanggung jawab pada teknis dan artistik visual, sedangkan Research Writer bertanggung jawab pada content, skenario dan flow acara....
Sementara di RCTI, sistemnya berbeda lagi. Seorang Produser belum tentu adalah seorang Program Director. Sedangkan untuk creative content, Producer dibantu oleh tim kreatif yang juga bertugas menulis skenario. Mereka kemudian merancang program pada saat Pra Produksi, sedangkan saat produksi, Producer menyerahkan kepada Program Director.... Sistem ini mirip dengan sistem di TV broadcast Amerika. Sedangkan untuk TV Kabel, sistemnya lebih lentur karena jumlah SDMnya terbatas....

Lalu mengapa harus ada Partner: Creative dan Producer? Ini sebenarnya adalah bentuk simplifikasi dari "Triangle Production System: Producer, Scenario, Director". Produser dipegang oleh produser, Scenario dipegang orang Creative dan Program Director dipegang oleh Producer atau PD lain. Berbeda dengan FILM, dalam televisi semuanya bersifat industrial sehingga seorang produser bisa saja menghandle lebih dari 5 acara tv setiap minggu. Demikian juga dengan orang kreatif. Sementara PD,biasanya malah Pool PD, alias jadwal syuting seminggu berdasarkan assignment. Jadi bisa saja dalam seminggu seorang PD mengerjakan 10 program televisi mulai dari musik, sport sampai acara Mimbar Agama....

sumber: pojokspy.blogspot.com

Film dan Ilusi

Ilusi. Secara material film terdiri atau dibangun oleh gambar-gambar dan bukan secara seluloid. Gambar-gambar ini menimbulkan ilusi yang kuat sekali pada kita bahwa apa yang diproyeksikan pada layar sungguh-sungguh kenyataan. Ini disebabkan karena gambar-gambar itu berbeda dengan gambar-gambar pada seni lukis misalnya, tapi merupakan gambar-gambar mekanis (dibuat oleh dan dengan suatu mekanik). Sifat utama dari gambar atau imaji (image) itu adalah sifat reproduktifnya.

Proyeksi dan photogenic. Ilusi tadi bisa timbul secara kuat pada kita karena tidak saja besarnya obyektivitas yang terdapat pada pernyataan sinematografi itu, tapi juga pada aktivitas penonton sendiri dalam mengandaikan berbagai pikiran dan motivasi yang berada pada gambar-gambar yang disaksikan. Gambar-gambar atau imaji-imaji itu tidak saja diproyeksikan oleh sebuah proyektor, tapi juga merupakan proyeksi dari kehidupan batiniah dari penontonnya.

Dunia virtual. Imaji atau gambar film mempunyai ketigadimensionalan dari gambar dalam kaca atau cermin. Perbedaannya dengan ketidakdimensionalan dari ruang yang nyata hanya terletak pada “virtualitasnya”. Kalau kita lupa bahwa layar proyeksi mempunyai batas (berbingkai), maka hilanglah batas antara ruang bioskop dan ruang filmis (ruang yang terdapat pada gambar-gambar di layar). Kamera yang berpindah-pindah tempat sewaktu syuting, menyingkapkan berbagai segi dari ruang yang sebenarnya, dimana kejadian filmis itu terjadi. Karena ketika kesadaran akan batas ruang itu hilang, maka kita (penonton) masuk ke dalam ruang filmis tersebut hilang.

Waktu filmis. Karena imaji-imaji filmis ini menimbulkan ilusi tentang kenyataan karena ketigadimensionalannya dan gerak yang ada padanya, maka imaji inipun mempunyai dimensi waktu, berlangsungnya waktu serta tangga waktu merupakan segi-segi dari waktu filmis tersebut. Film yang baik senantiasa menimbulkan ilusi bahwa kejadian filmis itu berlangsung dalam batas waktu yang pasti lebih lama dari waktu kita menonton. Masa lampau, masa kini dan bahkan masa nanti dapat dialami dalam waktu yang singkat (misalnya melaui flashback dan sebagainya).

Proyeksi dan identifikasi. Yang dimaksud dengan proyeksi adalah proses penonton masuk ke dalam kejadian filmis yang ia lihat dilayar. Sedangkan identifikasi merupakan suatu proses penonton menyerap kejadian di layar dalam dirinya.

Penghayatan filmis. Dalam mengalami dan menghayati film terjadi proyeksi dan identifikasi. Proses ini memiliki tiga segi, yaitu : proyeksi dan identifikasi optik (imaji-imaji filmis yang dilihat pada layar, dilihat penonton melalui lensa kamera), proyeksi dan identifikasi emosional (melalui identifikasi optik ini terjadi identifikasi dan proyeksi emosional. Perpindahan kamera dalam menyingkapkan ruang kejadian filmis itu berlangsung secara logis dan bermotivasi, sebagaimana yang telah dikemukakan), proyeksi dan identifikasi imajiner (kenyataan pada saat penonton melihat film, secara imajinatif penonton berada di antara tokoh-tokoh dan benda-benda dalam ruang filmis itu, dan bahwa sewaktu-waktu ia melihat kejadian-kejadian dalam ruang itu melalui penglihatan salah seorang tokoh).
Jadi, imaji-imaji film pada layar membangun suatu realitas imajiner, suatu titik pertemuan antara dunia luar dengan dunia “batiniah” dari penonton. Film menjadi semacam stasiun antara kenyataan dan imajinasi. Sifat paradoksal dari film ini memungkinkan kontak antara penonton dan universum film. Suatu kontak dimana penonton sekaligus menghayati dirinya sebagai outsider dan insider

Sumber : pojokspy.blogspot.com

Elemen warna dalam seni visual

Dalam seni Visual, ada tiga elemen dasar yang paling penting untuk menciptakan sebuah karya visualisasi yang mengekplorasi imajinasi kreatif manusia. Ketiga elemen dasar visual tersebut adalah Color(warna), Shape (bentuk) dan Texture (tekstur). Ketiganya menyatu dalam kombinasi yang diciptakan oleh para Filmmaker dan TV maker untuk dapat memberikan rasa keindahan bagi penikmatnya/penontonnya.
Nah, dalam industri televisi dan film, elemen Warna seringkali menjadi perdebatan karena warna sangat erat hubungannya dengan referensi, kombinasi dan percampuran. Nah, kali ini penulis mencoba mengingatkan kita semua darimana warna dasar untuk Televisi berasal?
Warna putih sebagai Color Reference adalah percampuran antara warnaMerah (30%), Hijau (59%) dan Biru (11%).
Itulah mengapa "WhiteBalance" dilakukan pada kamera dengan menggunakan objek berwarna putih. Ini terjadi karena sinyal warna putih akan selalu berubah tergantung dari kondisi pencahayaan dan suhu yang berbeda yaitu DayLight atau Tungsten.
Warna Percampuran lain adalah:
Yellow = Red + Green
Magenta= Red + Blue
Cyan = Green + Blue
Sedangkan "the word of RGB (Red, Green, Blue)" juga mempunyai arti. Mengapa kita menyebutnya sebagai RGB? bukan GBR atau BRG? ini ada hubungannya dengan Human Skin Tones dimana warna kulit manusia didominasi oleh elemen warna Red (Merah), lalu Green (Hijau) dan terakhir Blue (Biru). Atau sering dikenal dengan rumus R>G>B. Itulah mengapa dalam teknik Chroma Key digunakan latar belakang warna biruatau hijau bukan merah.Warna Hitam saat ini telah menjadi "the color of cool".
Hitam adalah warna penegas, pemberontak, klasik, elegan, tanpa kompromi, dan berbagai sebutan lainnya. Bahkan kedua elemen visual Shape (Bentuk) dan Texture (Teksture) sangat dipengaruhi oleh warna hitam. Lihat saja Play Station 2, iPOD, Handphone, Laptop, dsb menjadi lebih indah dengan warna hitam.
Tulisan ini ditulis dari berbagai referensi Create Magazine, Buku2xproduksi televisi dan pengetahuan pribadi.
Semoga bermanfaat untuk anda.

Sumber : pojokspy.blogspot.com

Struktur Film

Alur cerita (plot) adalah penjabaran dari cerita sebuah film, terdiri dari rentetan-rentetan kejadian bermotivasi dan berhubungan secara sebab-akibat. Struktur menanjak kepada cara untuk menyusun dan mengintegrasikan kejadian-kejadian dari plot tersebut.
(Haug P. Manogian : The Filmmaker’s Art, New York London, hal 30)

Esensi dari struktur film terletak pada pengaturan berbagai unit cerita atau ide sedemikian rupa sehingga bisa dipahami. Struktur adalah blueprint; kerangka desain yang menyatukan berbagai unsur film dan merepresentasikan jalan pikiran dari pembuat film. Struktur terdapat dalam semua bentuk karya seni. Pada film ia mengikat aksi (action)`dan ide menjadi suatu kesatuan yang utuh.
Struktur yang baik adalah struktur yang sederhana tapi penuh relief. Penyusunan pikiran dan perasaan si seniman film ditentukan oleh faktor-faktor :
1. keutuhan (semua unsur dalam film mesti bertalian dengan subyek utamanya.
2. ketergabungan (harus berhubungan antar unsur, dan menunjukkan kesimpulan).
3. tekanan (tekanan akan menentukan posisi dari unit-unit utama dan sampingan film) .
4. interes (berhubungan dengan “isi” dari setiap unit).
Struktur film terdiri dari struktur lahiriah dan struktur batiniah.
Dalam struktur lahiriah, terdapat unsur-unsur atau unit-unit yang membangun yaitu : shot; dapat dirumuskan sebagai peristiwa yang direkam oleh film tanpa interupsi. Unsur berikutnya adalah scene atau adegan; scene terbentuk apabila beberapa shot disusun secara berarti dan menimbulkan suatu pengertian yang lebih luas tapi utuh.
Banyaknya shot, panjang pendeknya shot dalam sebuah adegan akan menentukan ritme dari adegan itu. Selain shot dan scene, adapula sequence atau babak; babak terbentuk apabila beberapa adegan disusun secara berarti dan logis. Babak memiliki ritme permulaan, pengembangan dan akhir.
Struktur batiniah ditentukan oleh sejumlah unsur :
1. Eksposisi (keterangan tentang temoat, waktu, suasana, watak)
2. Point of attack (konfrontasi awal dari kekuatan-kekuatan yang saling bertentangan)
3. Komplikasi (menuturkan keterlibatan-keterlibatan antar unsur pendukung cerita)
4. Discovery / penemuan (informasi-informasi baru dalam pertengahan cerita)
5. Reversal / pembalikan (terjadinya komplikasi baru antar pendukung cerita)
6. Konflik (perbenturan antara kekuatan-kekuatan yang bertentangan)
7. Rising Action (pengungkapan pengembangan plot utam)
8. Krisis (timbul apabila komplikasi-komplikasi menuntut keputusan penting dari tokoh)
9. Klimaks (puncak paling tinggi dari semua ketegangan dan intensitas. Biasanya timbul
bersamaan dengan krisis)
10. Falling action (klimaks menurun dan menuju kesimpulan)
11. Kesimpulan (tahap semua pertanyaan dijawab, masalah utama dipecahkan dan diatasi. Dalam cerita tragedi disebut katarsis, dan happy end dalam suatu komedi.)

Sumber : pojokspy.blogspot.com

Sinematografi

Tentang Sinematografi
Sejarah sinematografi sangat panjang, namun di sini tidak akan dibahas tentang “perjalanan” sinematografi dari awal. Kemajuan teknologi akan terus berkembang, demikian juga dengan teknologi sinematografi, sehingga kini dikenal dengan sinematografi digital. Kemajuan ini tentu saja akan lebih memudahkan para sineas dalam berkarya. Sebelum lebih lanjut membahas sinematografi, baiknya kita fahami dulu makna dari sinematografi itu sendiri. Sinematografi adalah kata serapan dari bahasa Inggris cinematograhy yang berasal dari bahasa latin kinema ‘gambar‘. Sinematografi sebagai ilmu serapan merupakan bidang ilmu yang membahas tentang teknik menangkap gambar dan menggabung gabungkan gambar tersebut hingga menjadi rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide.

Sinematografi memiliki objek yang sama dengan fotografi yakni menangkap pantulan cahaya yang mengenai benda. Karena objeknya sama maka peralatannya pun mirip. Perbedaannya fotografi menangkap gambar tunggal, sedangkan sinematografi menangkap rangkaian gambar. Penyampaian ide pada fotografi memanfaatkan gambar tunggal, sedangkan pada sinematografi memanfaatkan rangkaian gambar.Jadi sinematografi adalah gabungan antara fotografi dengan teknik rangkaian gambar atau dalam senematografi disebut montase atau montage.

D.O.P
D.O.P atau Director of Photography adalah seorang seniman yang melukis dengan cahaya. Dia harus familiar dengan komposisi dan semua aspek teknik pengendalian kamera dan biasanya dipanggil untuk menyelesaikan permasalahan teknis yang muncul selama perekaman film. D.O.P sangat jarang mengoperasikan kamera. Kerja D.O.P sangat dekat dengan sutradara untuk mengarahkan teknik pencahayaan dan jangkauan kamera untuk setiap pengambilan gambar. “Itu adalah salah satu alasan utama kita untuk berusaha mendapatkan uang untuk menjadi entertain. Karena jika bukan untuk bakat dan pengetahuan sinematografer tidak ada jalan untuk membuat dunia kata-kata penulis kedalam gambar yang bisa dilihat oleh semua orang” demikian kata Sinematografer Michael Benson.

Banyak orang berpikir bahwa sutradara mengatur seorang aktor apa yang harus dia lakukan dan D.O.P mengambil gambar. Ini benar, tetapi ada banyak lagi proses selain hal tersebut. Perubahan dari script ke dalam layar lebar adalah melalui lensa seorang D.O.P. Pembuatan film adalah bekerja bersama dengan apa yang ada disana, dan memfilter apa yang ada disini melalui suatu alat yang disebut kamera. Sampai frame pertama digunakan, ini hanyalah sebuah kontrak, ide, konsep, script dan harapan.

Sinematografi tidaklah hanya melihat melalui kamera dan mengambil gambar. Namun tentu saja memerlukan mata yang tajam dan imaginasi yang kreatif. Ini juga memerlukan pengetahuan tentang kimia dan fisika, persepsi sensor yang tepat dan tetap fokus kepada detail. Hampir dari semua itu memerlukan kemampuan untuk memimpin dan juga mendengar, untuk menjadi bagian dari tim kreatif dan proses, dapat dengan memberikan saran yang membangun dan kritis. Sinematografer memerlukan waktu yang panjang dalam pekerjaannya dan memerlukan pengamat, waktu yang pendek untuk masuk ke dunia yang baru

Bekerja dengan Sutradara
Tanggung jawab utama dari D.O.P adalah untuk menciptakan jiwa dan perasaan dalam gambar dengan pencahayaan mereka. Tergantung kepada gaya sutradara, anda dapat memutuskan untuk memilih penampilan film anda sendiri, atau, biasanya setelah meeting dengan sutradara dan biasanya dilakukan bagian artistik yang anda pilih untuk mengatur teknik pencahayaan yang sesuai. Atau sutradara memiliki ide sendiri seperti apa bentuk film ini dan ini akan menjadi tugas D.O.P untuk memenuhi keinginan ini. Semua jalan kerja yang berbeda-beda ini hanyalah panduan yang menyenangkan dalam usaha untuk memenuhi harapan sutradara dan memberikan apa yang dia inginkan dan semoga memberikan kebanggaan dan kesetiaan seorang sutradara.

Sutradara dan sinematografer seharusnya secara konstan berdiskusi tentang angle kamera, warna, pencahayaan, blocking dan pergerakan kamera. Sutradara tahu apa yang dia inginkan. Bagaimana dia mengerjakan ini biasanya tergantung kepada sinematografer. Sinematografer menawarkan ide dan menerima penolakan. Sutradara adalah kapten dari kapal. Seberapa banyak atau sebatas mana kolaborasi yang dia inginkan adalah keputusannya
Sinematografer Darius Khondji mengatakan ”Saya melihat pekerjaan saya adalah untuk membantu director dalam memvisualisasikan film. Ini akan menjadi proses yang terus-menerus, ada banyak hubungan dengan sutradarara tidak hanya sebatas profesional, sering kali menjadi teman dekat dalam kolaborasi kami. “

“Sebagai seorang manager, saya mempelajari banyak hal tentang bagaimana mengatur orang. Saya belajar bagaimana merencanakan dan apa peran penting sebuah tim. Saya belajar cara menangani lokasi, bekerja sebagai AD, mengendarai mobil, dan sebagian pertunjukan, bahkan sebagai pemegang kunci. Semua posisi adalah pelajaran yang tidak ternilai,” kata Neil Roach.
Salah satu pelajaran terpenting yang telah dipelajari Neil Roach sepanjang karirnya tentang pembuatan film adalah mengenai kolaborasi. “Saat anda bekerja dengan sutradara yang tepat, anda dapat menghasilkan kerja yang menakjubkan” Dia berkata, “Tidak menjadi masalah dengan sutradara, yang harus anda lakukan adalah anda bekerja yang terbaik. Karena tugas alami seorang kameramen adalah selalu berkata ‘tidak’. Tidak, anda menginginkan terlalu banyak cahaya. Atau ‘tidak’ anda tidak dapat melakukan ini dan itu. Dalam hati, saya selalu menggambarkan ini untuk menyenangkan diri saya sendiri, dan memperoleh apa yang saya inginkan pada waktu yang sama, memberikan pegawai apapun yang mereka inginkan.”
Sebagai seorang kepala departemen senior, D.O.P diharapkan dapat menjadi contoh keseluruhan unit. Sering kali hanya individu dari sinematografer yang bekerja sebatas kualitas fotografi saja. Ketepatan waktu, perilaku kru, pakaian, kesopanan semua menjadi satu, setidaknya bagian dari D.O.P sehingga mereka menetapkan standar profesional untuk setiap kru. D.O.P bertangung jawab untuk semua hal yang berkaitan dengan fotografi pencahayaan film , exposure, komposisi, kebersihan, dll, yang semua itu adalah tanggung jawab mereka
“Operator kamera memainkan peran yang terpenting dalam membuat film dengan sutradara. Seorang operator pemula akan tidak percaya diri dengan sutradara. Ada segitiga sutradara, kamera (dan operator) , serta aktor” Michael Benson menjelaskan “Saat segitiga tersebut rusak, jalur komunikasi juga akan rusak. Ini dapat menjadi berbagai bentuk, tetapi segitiga tersebut adalah hal terpenting dari film dan pencerita dapat berafiliasi dengan ini. Operator adalah orang yang tahu jika suatu pengambilan sudah fokus. Saat ini ada suatu kesalahan bahwa teknologi dapat membetulkannya. Tetapi jika pengambilan tidak fokus, tidak ada teknologi yang dapat merubah supaya fokus”

Grip
Grip bertanggung jawab pada dolly track dan semua gerakan yang dilakukannya. Dia juga bertanggung jawab untuk memindahkan tripod untuk setup selanjutnya: focus puller biasanya bersama dengan kamera. Salah satu hal terpenting adalah kamera tidak boleh dipindahkan saat dia masih berada di tripod. Grip juga bertanggung jawab terhadap gedung, atau mengatur gedung, mengawasi gedung, setiap konstruksi yang diperlukan untuk mendukung jalur atau pergerakan kereta supaya bisa berjalan. Tingkat dan kerataan kerja dorongan track adalah kunci sukses pengambilan gambar. Perawatan jalur dolly dan peralatannya adalah tugas grip. Mereka akan sering membangun atau membuat beberapa hal kecil untuk memperbaiki kamera di hampir setiap objek

Gaffer
Gaffer adalah seorang kepada elektrik dan akan bekerja langsung dengan D.O.P. Beberapa D.O.P akan menentukan bentuknya dan pintu gudang dan yang tidak dia inginkan- ini tergantung kepada bagaimana mereka ingin bekerja bersama, Sering D.O.P akan dekat dengan gaffer daripada anggota kru lain. Mereka sangat vital untuk kesuksesannya
Sejak pertama kali sinematografer Ward Russell “naik“ menjadi Director Photography, dia memberikan nasihat kepada gaffernya “Saya selalu memberitahukan kamu bahwa kamu dapat belajar dari bayangan daripada dengan melihat cahaya Anda dapat mengatakan arah, kelembutan, intensitas, dan perbandingan kepada bayangan. Bayangan memberikan kamu kontras dan kontras yang memberikan kamu bentuk dan drama. Exposure saya selalu sesuai, tidak lebih, seberapa detail saya ingin melihat dalam bayangan sama dengan seberapa terang saya ingin dari cahaya. Untuk saya, sekali anda memiliki titik yang tepat untuk cahaya, proses kreatifnya adalah seberapa banyak cahaya yang dapat anda ambil“

Kamera Film
Manusia telah dibohongi oleh film selama berabad-abad. Salah satu alasannya adalah oleh satu peralatan kecil sederhana (yang juga merupakan peralatan dasar sinematografer), kamera film, untuk merekam langsung dari imaginasi kita. Hal pokok dari kamera film adalah beberapa kotak, salah satunya dengan lensa di depan dan mekanisme yang dapat ditarik sesuai dengan lama film setidaknya enam belas kali setiap detik.
Hal lainnya memiliki panjang yang sesuai untuk mekanisme film, dengan ruang yang tersisa untuk mengambil gambar setelah exposure. Saat gambar-gambar dari alat ini diproyeksikan oleh mekanisme yang sesuai, mereka memberikan representasi dari scene asli dengan semua pergerakannya yang ada didalamnya untuk ditampilkan dengan benar.

Bagian mesin yang sangat tepat ini memiliki sejumlah fungsi, yang masing-masing memerlukan pemahaman dan perawatan, dari kamera untuk tetap menghasilkan yang terbaik dan konsisten. Seorang kameramen pemula harus mencoba untuk familiar dengan itu semua dan nyaman dengan pengoperasian kamera, sehingga dia dapat berkonsentrasi untuk aspek kreatif dari cinematography. Pergerakan mekanisme film adalah berbeda dengan kamera saat hanya sebagai sebuah kamera. Ilusi dari pergerakan gambar diciptakan oleh pergantian fotografi yang cepat.

Menghasilkan gambar yang bergerak cepat dengan panjang tertentu dari gambar yang ada adalah yang menjadi perhatian dari pandangan manusia. Jika gambar dipancarkan ke retina, mata manusia akan melihat gambar, singkatnya, secara keseluruhan dan seterusnya, untuk periode yang singkat, gambar akan tetap berada di dalam manusia saat menjadi redup atau menghilang.

Jika gambar kedua ditembakkan ke retina manusia akan dapat melihat dua gambar yang berkelanjutan tanpa ada sorotan yang pertama.. Proses flashing gambar yang berkelanjutan ini akan membuat otak menganggap tidak ada jarak antara dua gambar tersebut dan pergerakannya lembut. Laju flashing gambar ke mata adalah sepuluh flash setiap detiknya, dalam laju ini efek kedip akan tidak terasa. Hanya di sekitar enam belas atau delapan belas gambar baru per detik yang menyebabkan pergerakan dianggap sebagai suatu pergerakan yang dapat diterima dan efek kedip dapat dikurangi sampai ke titik yang dapat diabaikan.

Seiring pergantian abad, laju frame menjadi 18 frame per detik (fps) menjadi sesuatu yang umum. Saat ini baik kamera dan proyektor masih dengan tuas tangan dan memiliki kecepatan 2 putaran per detik yang akan menghasilkan laju frame, yang sangat nyaman.

Sumber : pojokspy.blogspot.com