Tampilkan postingan dengan label TELEVISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TELEVISI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Maret 2009

Apa Itu Dokumenter?

Dokumenter sering dianggap sebagai rekaman ‘aktualitas’—potongan rekaman sewaktu kejadian sebenarnya berlangsung, saat orang yang terlibat di dalamnya berbicara, kehidupan nyata seperti apa adanya, spontan dan tanpa media perantara. Walaupun kadang menjadi materi dalam pembuatan dokumenter, faktor ini jarang menjadi bagian dari keseluruhan film dokumenter itu sendiri, karena materi-materi tersebut harus diatur, diolah kembali, dan diatur strukturnya. Terkadang bahkan dalam pengambilan gambar sebelumnya, berbagai pilihan harus diambil oleh para pembuat film dokumenter untuk menentukan sudut pandang, ukuran shot (type of shot), pencahayaan dan lain-lain agar dapat mencapai hasil akhir yang diinginkan.

John Grierson pertama-tama menemukan istilah dokumenter dalam sebuah pembahasan film karya Robert Flaherty, Moana (1925), yang mengacu pada kemampuan sebuah media untuk menghasilkan dokumen visual suatu kejadian tertentu. Grierson sangat percaya bahwa “Sinema bukanlah seni atau hiburan, melainkan suatu bentuk publikasi dan dapat dipublikasikan dengan 100 cara berbeda untuk 100 penonton yang berbeda pula.” Oleh karena itu dokumenter pun termasuk didalamnya sebagai suatu metode publikasi sinematik, yang dalam istilahnya disebut “creative treatment of actuality” (perlakuan kreatif atas keaktualitasan). Karena ada perlakuan kreatif, sama seperti dalam film fiksi lainnya, dokumenter dibangun dan bisa dilihat bukan sebagai suatu rekaman realitas, tetapi sebagai jenis representasi lain dari realitas itu sendiri.

Kebanyakan penonton dokumenter di layar kaca sudah begitu terbiasa dengan kode dan bentuk yang dominan sehingga mereka tak lagi mempertanyakan lebih jauh tentang isi dari dokumenter tersebut. Misalnya penonton sering menyaksikan dokumenter yang dipandu oleh voiceover, wawancara dari para ahli, saksi dan pendapat anggota masyarakat, set lokasi yang terlihat nyata, potongan-potongan kejadian langsung dan materi yang berasal dari arsip yang ditemukan. Semua elemen khas tersebut memiliki sejarah dan tempat tertentu dalam perkembangan dan perluasan dokumenter sebagai sebuah bentuk sinematik.

Ini penting ditekankan, karena dalam berbagai hal, bentuk dokumenter sering diabaikan dan kurang dianggap di kalangan film seni karena seakan-akan dokumenter cenderung menjadi bersifat jurnalistik dalam dunia pertelevisian. Bukti-bukti menunjukkan bahwa, bagaimanapun, dengan pesatnya perkembangan dokumenter dalam bentuk pemberitaan, terdapat perubahan kembali ke arah pendekatan yang lebih sinematik oleh para pembuat film dokumenter akhir-akhir ini. Dan kini perdebatannya berpindah pada segi estetik dokumenter karena ide kebenaran dan keaslian suatu dokumenter mulai dipertanyakan, diputarbalikkan dan diubah sehubungan dengan pendekatan segi estetik dokumenter dan film-film non-fiksi lainnya.

Satu titik awal yang berguna adalah daftar kategori Richard Barsam yang ia sebut sebagai “film non-fiksi” Daftar ini secara efektif menunjukkan jenis-jenis film yang dipandang sebagai dokumenter dan dengan jelas memiliki ide dan kode etik tentang dokumenter yang sama. Kategori-kategori tersebut adalah:
• film faktual
• film etnografik
• film eksplorasi
• film propaganda
• cinéma-vérité
• direct cinema
• dokumenter

Pada dasarnya Barsam menempatkan dokumenter itu sendiri di luar kategori lain karena ia mengatakan bahwa peran si pembuat film dalam menentukan interpretasi materi dalam jenis-jenis film tersebut jauh lebih spesifik.

Perkembangan dokumenter dan genre-nya saat ini sudah sangat pesat dan beragam, tetapi ada beberapa unsur yang tetap dan penggunaannya; yakni undur visual dan verbal yang biasa digunakan dalam dokumenter.

Unsur Visual:
1. Observasionalisme reaktif: pembuatan film dokumenter dengan bahan yang sebisa mungkin diambil langsung dari subyek yang difilmkan. Hal ini berhubungan dnegan ketepatan observasi oleh operator kamera/sutradara.

2. Observasionalisme proaktif: Pembuatan film dokumenter dengan memilih materi film secara khusus sehubungan dengan observasi terdahulu oleh operator kamera/sutradara.

3. Mode ilustratif: Pendekatan terhadap dokumenter yang berusaha menggambarkan secara langsung tentang apa yang dikatakan oleh narator/voice over.

4. Mode asosiatif: Pendekatan dalam dunia dokumenter yang berusaha menggunakan potongan-potongan gambar dengan berbagai cara. Dengan demikian, diharapkan arti metafora dan simbolis yang ada pada informasi harafiah dalam film, dapat terwakili.

Unsur Verbal:
1. Overheard exchange: Rekaman pembicaraan antaradua sumber atau lebih yang terkesan direkam secara tidak sengaja dan secara langsung.

2. Kesaksian: Rekaman observasi, opini atau informasi, yang diungkapkan secara jujur oleh saksi mata, pakar dan sumber lain yang berhubungan dengan subyek dokumenter. Hal ini merupakan tujuan utama dari wawancara.

3. Eksposisi: Penggunaan voice over atau orang yang langsung berhadapan dengan kamera, secara khusus mengarahkan penonton yang menerima informasi dan argumen.

Perkembangan Dokumenter

A. Dari Travelog hingga Dokumenter Arahan

Sejarah film non-fiksi berawal dari perkembangan awal film. Berlanjut dari still photography dan studi tentang gerakan seperti yang dipotret oleh Edward Muybridge hingga meluasnya trend dalam seni untuk merekam ‘realitas, dalam cara yang paling akurat,’ ‘aktual’ atau ‘bersifat dokumenter’. Trend yang dipopulerkan oleh Lumiere bersaudara pada tahun 1895 ini merupakan sebagian dari film non-fiksi pertama. Beberapa dari film itu adalah Workers Leaving the Lumière Factory dan Arrivèe d’un train en gare à la Ciotat, dan hanya merupakan contoh kejadian sehari-hari yang terekam oleh kamera statis. Penonton takjub karena itulah pertama kalinya mereka menyaksikan peristiwa-peristiwa nyata dalam bentuk film. Film-film pendek serupa dibuat oleh Edison di Amerika dan fenomena itu dengan cepat menyebar ke seluruh dunia, ditandai dengan bermunculannya karya-karya serupa dari Spanyol, India dan Cina.

Mungkin, contoh-contoh utama yang mencirikan bentuk dokumenter adalah film yang muncul setelah revolusi Rusia tahun 1917 dan terutama karya Dziga Vertov – mengedit sebuah film berita berjudul Kino-Pravda (secara harafiah berarti ‘Kebenaran-Film’) – dan mengembangkan suatu pendekatan yang dipergunakan dalam sebuah film berjudul Kinoki (‘mata-sinema’). Buatnya tugas seorang pembuat film adalah mengungkapkan bahwa dalam hidup itu tidak ada yang terjadi secara kebetulan, pembuat film diharapkan dapat menangkap hubungan dialektis antara kejadian-kejadian yang sangat berlawanan dalam realita; tugasnya adalah untuk mengungkap konflik yang terkandung dalam kekuatan antagonistik di kehidupan dan memaparkan dengan jelas ‘sebab dan akibat’ dari fenomena kehidupan. Penggunaan media film oleh Vertov sangatlah kreatif dan ia secara terus-menerus menekankan pentingnya seni pembuatan film dan terpolitisirnya realita yang berhasil terekam. Pertentangan antara menampilkan ‘aspek’ rekaman (yaitu penggunaan kamera secara tidak lazim, editing yang kompleks, dsb) dan ‘isi’ yang ditunjukkan membuat rancu konsep film sebagai dokumentasi.

Hal ini terutama berhubungan dengan karya selanjutnya dan yang paling terkenal, The Man with the Movie Camera (1929). Sutradara cinéma-vérité, Richard Leacock, mengatakan bahwa film berita Vertov bersifat persuasif, walaupun kelaparan dan bencana yang terekam itu terkesan dangkal. Rasa estetika Vertovlah yang dalam pikiran Leacock sangat menjauhkannya dari semangat murni bidang dokumenter dalam menunjukkan kehidupan seperti apa adanya.

Formalisme serupa muncul pada apa yang kemudian dikenal sebagai dokumenter City Symphony yang meliputi Rien que les heures (1926), disutradarai oleh Alberto Cavalcanti, dan Berlin, Symphony of a Great City (1927) karya Walter Ruttman. Kedua karya tersebut diwarnai oleh tehnik-tehnik baru dan surealis. Pada dasarnya, kedua film tersebut merupakan gambaran dari tiap-tiap kota, dengan menggunakan potongan gambar dari berbagai lokasi sesungguhnya untuk mengungkapkan kontradiksi antara kaya dan miskin. Walaupun menghadapi tuntutan para formalis, kedua film tersebut berhasil mencapai sukses dalam memancing pendapat publik, dan berpengaruh dalam keberhasilan mereka menggunakan gambaran kehidupan manusia sehari-hari, obyek dan lokasi untuk efek politis dan simbolis.

Di Amerika, film non-fiksi pada mulanya berbentuk travelog (suatu istilah yang ditemukan oleh Burton Holmes), yaitu potongan gambar yang diambil di negara asing dan dipertontonkan dalam perkuliahan dan pemutaran slide untuk memperkenalkan penonton pada budaya yang berbeda-beda dan berbagai tempat eksotis.

Tahun 1904, pada Pameran St Louis, Tours and Scenes of the World yang dibuat oleh George C. Hale cukup berhasil, tapi tidak mencapai taraf yang sama dengan film perjalanan safari Presiden Teddy Roosevelt ke Afrika atau pengalaman Robert Scott ke Kutub Selatan. Film-film perjalanan (travelog) tersebut menarik minat publik Amerika karena film tersebut menunjukkan jiwa petualangan dan keberanian orang Amerika; mendukung adanya pandangan bahwa kesadaran orang Amerika yang tinggi ini terlihat dari jiwa perintis dan kemampuan bertahan dari ‘daerah perbatasan’.

Pandangan ini menopang tradisi aliran Romantis pembuatan film, diawali dengan potongan gambar travelog para koboi dan orang Indian dan mencapai perwujudannya yang sempurna dalam film karya Robert Flaherty. Namun, perlu disebutkan secara khusus mengenai Merian C. Cooper dan Ernest Schoedsack yang membuat Grass (1925), sebuah film tentang suku nomadis Iran mencari padang rumput yang masih segar, dan Chang (1927), yang mengikuti pengalaman sebuah keluarga Thailand di dalam hutan, di dalamnya terdapat juga adegan berbagai binatang predator yang berusaha memangsa para wanita dan anak. Film ini sangat mempengaruhi film Cooper dan Shoedsack yang paling terkenal, King Kong (1933).

Namun, Robert Flaherty-lah yang paling memberikan wujud bagi bentuk dokumenter sebagai suatu alat etnografis (studi ilmiah tentang ras lain melalui observasi langsung dan antropologis). Disponsori oleh perusahaan pakaian yang terbuat dari bulu hewan, Revillon Freres, Flaherty membuat Nanook of the North (1922), sebuah studi tentang suku Inuit Eskimo di sebelah utara Kanada, yang dikenal sebagai salah satu film paling berpengaruh dalam aliran tersebut.

Mungkin film itu memberikan semua petunjuk yang kita perlukan untuk mendefinisikan baik dokumenter maupun batasan-batasannya yang dapat diterima. Seperti diungkapkan oleh Barsam dan Calder-Marshall di atas, film karya Flaherty adalah film-film ‘arahan’ dengan tujuan tertentu; suatu tujuan yang dapat kita sebut tak hanya untuk merekam kehidupan orang Eskimo, tapi juga untuk mengingat dan menampilkan kembali masa kehidupan orang Eskimo yang lebih primitif, lebih ‘nyata’, di waktu lalu.
Tujuan nostalgia ini hanya dipakai untuk memitologikan kehidupan orang Eskimo, dan pada taraf tertentu menggesernya dari konteks ‘sebenarnya’; hingga sekali lagi mempertanyakan beberapa prinsip yang melekat, yang kita asumsikan sangat penting dalam menentukan ‘kebenaran’ dokumenter.

Campur tangan Flaherty dalam materi film itulah yang paling bermasalah ketika mengevaluasi Nanook sebagai film dokumenter utama. Flaherty tak puas hanya dengan merekam kejadian-kejadian; ia ingin ‘mendramatisir’ kenyataan dengan memfilmkan aspek-aspek kebudayaan orang Eskimo yang ia ketahui dari perjalanan terdahulunya ke Hudson Bay antara tahun 1910-1916. Misalnya, ia ingin memfilmkan orang Eskimo berburu dan menangkap anjing laut dengan seruit (seruit: sejenis tombak bermata satu yang digunakan untuk menangkap jenis ikan besar, pada masa modern digunakan secara ditembakkan) secara tradisional, ketimbang merekam adegan berburu dengan menggunakan senapan, alat yang waktu itu mereka gunakan sehari-hari. Flaherty juga membangun igloo untuk menyesuaikan peralatan kamera, dan mengatur sebagian gaya hidup orang Eskimo untuk dicocokkan dengan keperluan teknis pengambilan gambar dalam kondisi tersebut. Dalam Moana, Flaherty menampilkan upacara ritual pembuatan tato penduduk pulau Samoa, mengetengahkan kembali suatu praktik yang sudah bertahun-tahun tak pernah lagi dilakukan. Sementara dalam Man of Aran (1935), para pemburu ikan hiu juga ditampilkan, padahal tidak lagi mencirikan keberadaan penduduk Pulau Aran pada saat itu.

B. Dari Ulasan Sosial, Propaganda, hingga Aktualitas Puitis

Jika Flaherty membangun tradisi dokumenter yang muncul dari film perjalanan dan ingin merayakan keberadaan umat manusia, maka John Grierson (berkebangsaan Inggris) mengartikan dokumenter dalam terminologi yang lebih dipolitisir. Terpikat oleh pandangan bahwa dokumenter dapat membantu proses demokrasi dalam mendidik masyarakat, Grierson dengan semangat mengejar tujuannya.

Ia dipengaruhi oleh pemikiran Water Lippmann (yang percaya bahwa kompleksitas kehidupan modern mencegah orang awam untuk berpartisipasi dalam masyarakat sebagaimana mestinya) dan karya Sergei Eisenstein (”Battleship Potemkin”, 1925).
Grierson ingin agar film dokumenter secara sosiologis lebih peka dan kurang estetis daripada hasil karya Vertov. Pemikiran inilah yang kemudian mempengaruhi era tersebut, dimulai dengan Drifters (1929), satu-satunya film yang benar-benar disutradarai oleh Grierson, mengisahkan tentang para nelayan penangkap ikan herring di North Sea.

Film-film penting lainnya menyusul, yaitu Granton Trawler (1934), disutradarai oleh Edgar Anstey, mengenai dunia perikanan dan nelayan. Song of Ceylon (1934), disutradarai oleh Basil Wright, yang menampilkan usaha pertamanya untuk menggunakan nada penggiring gambar dan bukannya musik atau dialog. Housing Problems (1935), disutradarai bersama oleh Anstey dan Arthur Elton, yang menggunakan gaya film berita jurnalistik dalam mewawancarai orang-orang yang hidup di perumahan kumuh. Nightmail (1936), disutradarai oleh Basil Wright dan Harry Watt, yang menampilkan musik karya Benjamin Britten dan puisi karya W.H. Auden mengenai kereta api malam pengangkut surat dalam perjalanannya dari London ke Glasgow. North Sea (1938), diproduksi oleh Alberto Cavalcanti, dan disutradarai oleh Harry Watt, berkisah tentang hubungan radio dari kapal ke pantai yang direkonstruksikan secara dramatis.

Film-film seperti Squadron 992 (1939), Dover Front Line (1940), dan Target for Tonight (1941) menjadikan Harry Watt sebagai salah satu pembuat film yang paling penting pada periode tersebut, tapi karya Humphrey Jennings-lah yang menunjukkan beberapa aspek yang paling indah dan paling berpengaruh dalam pembuatan film dokumenter Inggris.

Ketika perang pecah, Jennings membuat dua film; The First Days (1939) dan Spring Offensive (1939). Namun karya terbesarnya adalah London Can Take It yang dibuat bersama Harry Watt. Film tersebut menceritakan tentang bagaimana orang Inggris selamat dalam menghadapi serangan udara mendadak, dan juga menunjukkan semangat, kegigihan dan ketahanan mereka. Film itu sengaja dibuat untuk menarik minat pasar di Inggris sendiri dan juga di Amerika. Film berikutnya adalah Heart of Britain (1940). Namun, film Words for Battle (1941) lah yang mengukuhkan posisi Jenning sebagai seorang pembuat film yang tak takut untuk mengembangkan berbagai aspek yang ia garap. Termasuk pendekatan yang lebih puitis dan ekspresif dari realisme emosionil. Words for Battle terdiri dari tujuh bagian. Tiap bagian berisi komentar Laurence Olivier. Bagian-bagian tersebut menampilkan gambaran pendekatan dengan cuplikan-cuplikan puisi atau orasi publik – termasuk potongan puisi William Blake yang berjudul ‘Jerusalem’, ‘The Beginnings’ karya Rudyard Kipling, pidato Winston Churchill pada 4 Juni 1940 serta Pidato Abraham Lincoln di Gettysburg (19 November 1863).

Jennings dapat menjadikan ‘aktualitas’ puitis secara efektif dan pada saat yang bersamaan, membangun kembali monumen dan bangunan bersejarah di masyarakat serta mengangkat nilai kemanusiaan rakyat biasa sewaktu menjalani kerasnya hidup selama peperangan dengan tabah. Hal ini menjadikan dokumenter sebagai jenis film yang tidak semata-mata merekam peristiwa, tetapi juga menjadikan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai ilustrasi yang sesuai untuk hal-hal puitis.

Pendekatan tersebut diteruskan pada karya-karya Jennings berikutnya; Listen to Britain (1941) dan Fires Were Started (1942). Tujuan dari pendekatan tersebut adalah untuk mengungkapkan secara emosionil dan mengangkat praktik kerja umum yang selama itu terabaikan hingga dianggap penting dan nilainya diakui selama perang. A Diary for Timothy (1946) melengkapi siklus perjuangan Jennings dan mungkin merupakan prestasi terbesarnya. Film tersebut mengisahkan pertumbuhan bayi Timothy sesudah perang, dengan naskah yang digarap oleh E.M. Forster dan dibawakan oleh Michael Redgrave, film tersebut memiliki nuansa sendu dan tak jelas karena optimisme emosionil Jennings yang normal menjadi kabur. Dokumenter yang seharusnya ‘aktual’; kini lebih dipengaruhi oleh ‘perasaan’ yang tidak konsisten daripada ‘fakta’ yang konsisten.

C. Propaganda sebagai Dokumenter Mitos

Diperlukan satu pembahasan panjang mengenai tradisi pembuatan film dokumenter a la Eropa. Namun demikian, tokoh seperti Joris Ivens (Belanda) dan Henri Storck (Belgia) berperan besar menyumbangkan pengertian tentang masa pra-perang di Eropa melalui film-film mereka. Ironisnya, Leni Riefenstahl, salah satu sutradara Eropa terbesar dan paling kontroversial menciptakan apa yang kemudian dikenal sebagai salah satu film terbaik, baik dokumenter ataupun jenis lainnya, sepanjang masa. Pada tahun 1935, Reifenstahl membuat Triumph of the Will, sebuah catatan tentang rapat akbar partai di Nuremberg yang mengundang perdebatan sengit. Haruskah film yang mengagung-agungkan cita-cita Nazi semacam itu, dipisahkan dari konteks propagandanya untuk kemudian diangkat menjadi film ‘seni’ dan dianggap sebagai salah satu contoh dokumenter terbaik?

Reifenstahl membuat Triumph of the Will setelah ia menyelesaikan Victory of Faith (1933) untuk merayakan Kongress Nasional Partai Sosialis Hitler yang pertama, dan Day of Freedom: Our Army (1934) sebuah bentuk penghormatan betapa efisiensnya resimen tentara Jerman. Triumph of the Will secara mendasar menggabungkan kedua tema tersebut dan mengembangkannya menjadi ide propaganda dokumenter sebagai mitos. Tampaknya, dengan dukungan penuh dari Hitler, Goebbels, dan pemerintah, serta sokongan dana dari berbagai agen pemerintah, Riefenstahl mempekerjakan sekitar 120 kru film dan lebih dari 30 kamera selama pengambilan dan pembuatan filmnya. Kru sebanyak itu sengaja diadakan untuk menunjang film tersebut dan sengaja membuat sebuah panggung artifisial yang megah. Hal ini langsung mematahkan pernyataan Riefenstahl yang mengatakan bahwa Triumph of the Will adalah cinéma vérité, karena seperti yang ditunjukkan oleh Susan Sontag bahwa ‘dokumen (gambaran) dalam Triumph of the Will, bukan semata-mata rekaman realitas, melainkan ‘realitas’ yang dibangun untuk melengkapi sebuah gambaran yang diinginkan.

Pembangunan ‘mitos’ dokumenter ini berkaitan dengan segi estetik fasis yang ditekankan Sontag dalam evaluasinya tentang Riefenstahl. Sontag mengatakan bahwa rapat akbar ‘ritual’ Nuremberg digambarkan dengan ‘dominasi’ dan ‘perbudakan’, dan hal ini secara simbolis tercermin dalam kumpulan segerombolan orang secara besar-besaran; perubahan orang menjadi sesuatu; pelipatgandaan sesuatu dan semuanya mengelilingi tokoh pemimpin atau pasukan yang sangat kuat dan berpengaruh. Dramaturgi fasis berpusat pada pertukaran eforia antara kekuatan besar dengan boneka-bonekanya. Koreografinya berubah silih berganti antara gerak tiada henti dan pose beku, statis dan kaku. Seni fasis memuja penyerahan, memuliakan kebodohan; mengagungkan kematian.

D. DARI BIAS DOKUMENTER HINGGA DIRECT-CINEMA DAN CINEMA-VERITE

Tahun 1936-37, Pare Lorentz satu lagi tokoh dalam pembuatan film non-fiksi Amerika, membuat dua film penting,The Plow that Broke the Plains (1936) dan The River (1937). Kedua-duanya disponsori oleh pemerintah dan berusaha mendukung ‘impian Amerika’.

The River adalah dokumenter berdurasi 30 menit yang dibuat dengan film 16 mm, berisi pengalaman sebuah keluarga yang dilanda kemiskinan. Dalam film itu, diberi kesan bahwa mereka ‘berpakaian tidak layak’, ‘tinggal di tempat yang tidak layak’, ‘tidak cukup makan’ dan ‘menggantungkan diri pada hasil panen’. Film itu berusaha membuktikan bahwa campur tangan pemerintah telah memperbaiki daerah tersebut, melalui Kebijakan “New Deal-nya“ Roosevelt (Proyek The Tennesse Valley Authority dan The Farm Security Administration pada tahun 1933). Tujuannya adalah agar mendapat dukungan penonton kelas menengah Barat dalam meneruskan pendanaan reformasi negara di Mississippi Valley.

Patut diperhatikan bahwa keluarga yang difokuskan dalam film tersebut berkulit putih, padahal kemungkinan besarnya yang bekerja di daerah tersebut adalah keluarga berkulit hitam. Disini jelas bahwa Lorentz menggunakan filmnya untuk menarik elit kekuasaan, pembuat undang-undang dan pemilih berkulit putih untuk menjamin perubahan. Singkatnya, film tersebut bukan untuk penonton berkulit hitam, walaupun, dalam kenyataan situasi tersebut lebih berdampak pada banyak keluarga berkulit hitam.

Film dokumenter di sini digunakan sebagai alat spesifik dalam proses komunikasi antara pemerintah dan penduduknya. Dalam tradisi dokumenter Amerika, dasar pemikiran inilah yang lebih dari 30 tahun kemudian ingin diubah oleh para pembuat film Amerika. Pembuat film sayap kiri baru ingin ikut serta dalam proses komunikasi antara pemerintah dan rakyatnya dengan mengungkapkan bagaimana pemerintah membangun institusi yang menekan dan seenaknya mengatasnamakan rakyat atas nama demokrasi.

Robert Drew adalah salah seorang pionirnya, bersama dengan para sutradara utama direct-cinema, Richard Leacock, Donn Pennebaker, serta Albert dan David Maysles merintis sebuah perlawanan terhadap model-model dokumenter pesanan dan sangat dikonstruksi itu. Primary (1960), film yang mengabadikan Hubert Humphrey dan John F. Kennedy dalam urutan kampanye partai demokrat pada pemilihan awal di Winsconsin, dan mencoba untuk melihat prosesnya melalui mata para kandidat.

Dengan menggunakan kamera jinjing, film tersebut mengangkat pengalaman para kandidat dan terbukti sangat terbuka dalam fokusnya mengenai kemeriahan acara tersebut. Direct-cinema sepertinya merekam ‘keaktualitasan’ dengan cara yang dapat mencapai kebenaran dan ketepatan sejarah.

Saat meninggalkan Drew Associates, Pennebaker mengejar ketertarikannya pada kebudayaan populer pada masa itu. Ia membuat Don’t Look Back (1966), sebuah film mengenai tur Bob Dylan di Inggris pada tahun 1965, dan Monterey Pop, menyajikan penampilan The Who, Simon & Garfunkel, dan Jimi Hendrix. Pennebaker, seperti rekannya Leacock, tampaknya memiliki ketertarikan terhadap musik sebagai barometer tingkah laku populer dan energi komunal. Pennebaker memadang filmnya kurang politis dibandingkan rekan-rekan direct-cinema-nya. Menurutnya: ‘Film-film saya bukan film dokumenter. Film tersebut tidak dimaksudkan untuk menjadi film dokumenter, tapi merupakan rekaman kejadian tertentu saja. Sedangkan dokumenter menurutnya film untuk tujuan eksplorasi, investigasi dan analisa.

Kemudian lahir Woodstock (1970) karya Mike Wadleigh dan Gimme Shelter (1970), yang dibuat oleh Maysles bersaudara. Bila Woodstock, rekaman mengenai festival musik rock paling terkenal sepanjang waktu, merupakan perayaan nilai spiritual dari perdamaian, cinta, komunitas dan penggunaan narkotika sebagai pemicu kreatifitas, lalu Gimme Shelter, rekaman mengenai tur keliling Amerikanya the Rolling Stones, menyajikan pembunuhan yang terjadi pada konser band tersebut di Altamont, ditertibkan oleh Hell’s Angels, memberi kesan bahwa era tersebut telah berakhir.

Maysles bersaudara banyak membuat dokumenter mengenai tokoh-tokoh budaya populer, contohnya, The Beatles dalam What’s Happening! The Beatles in the USA (1964), Marlon Brando dalam Meet Marlon Brando (1965), Mohammed Ali dan Larry Holmes dalam Mohammed and Larry (1980) dan Christo, seniman dengan visi, yang membungkus kawasan terkenal seperti pulau, lembah dan jembatan dengan kain sutera, dalam Christo’s Valley Curtain (1974), Running Fence (1976) dan Islands (1986).

Walaupun demikian, salah satu film yang paling penting adalah Salesman (1969), yang mengabadikan empat anggota perusahaan kitab Injil kelas menengah Amerika dalam usaha mereka untuk menjual kitab Injil. Kitab Injil, tentunya, adalah lebih dari sekedar ‘buku suci’, lebih dari sekedar ‘sebuah komoditas’, maka yang akhirnya terjadi adalah ketegangan antara nilai-nilai komersial dan spiritual. Untuk membeli atau menjual kitab Injil penting bagi kita untuk menunjukkan ‘kepercayaan’ kita, dan Paul Brennan, sang tokoh antagonis dijadikan fokus dari film tersebut, dengan jelas memperlihatkan sebuah krisis diri dalam mengerjakan pekerjaannya.

Relativitas sebuah film dokumenter sekali lagi dipertanyakan – sebuah relativitas yang tidak pernah disangkal oleh salah satu pendukungnya dari Amerika yang hebat, Frederick Wiseman. Saya rasa obyektifitas/subyektifitas adalah omong kosong. Saya tidak mengerti bagaimana sebuah film bisa tidak subyektif. Wiseman menghindari gaya pendekatan dokumenter yang mengutamakan tokoh atau kejadian dalam budaya populer. Ia lebih tertarik dengan gaya pembuatan film tertentu yang mengikutsertakan penonton dengan kehidupan sehari-hari institusi Amerika yang familiar.

Wiseman ingin mengetengahkan institusi ini karena institusi tersebut berfungsi sebagai bagian dari struktur dasar masyarakat demokratis, namun begitu menyatunya institusi itu di dalam masyarakat sehingga aktifitas mereka luput dari perhatian dan tidak pernah dipertanyakan.

Dengan cara tidak memfokuskan pada cerita individu, Wiseman meciptakan berbagai kejadian ‘mosaic’, interaksi dan proses bekerja, mengungkapkan bentuk-bentuk tingkah laku, yang pada akhirnya merefleksikan moral institusi tersebut dan nilai-nilai sosial masyarakat. Agar penonton dapat mengenal dan mengartikan materi yang ditayangkan, penting bahwa mereka tidak ‘pasif’ tapi secara aktif terikat dalam merasakan dunia yang mereka sedang hadapi. Akibatnya, Wiseman tidak menggunakan dubbing atau musik untuk memandu agar penonton mengerti film itu.
Walaupun Wiseman ingin penonton membuat keputusan sendiri, ia juga ingin mereka membuat lompatan imajinatif untuk mengerti bahwa institusi apa pun adalah model dari masyarakat, dan aktifitasnya merupakan simbol dan metafora untuk tema-tema yang lebih besar mengenai kekuatan dan kekuasaan.

Wiseman sudah membuat banyak film. Beberapa karyanya yang paling penting termasuk Titicut Follies (1967), High School (1968), Basic Training (1971), Model (1980), dan Central Park (1989). Titicut Follies, yang merupakan film pertama Wiseman, mungkin tetap merupakan karyanya yang paling kontroversial. Film ini menceritakan tentang orang-orang gila yang bertindak kriminal di Rumah Sakit Bridgewater di Massachusetts.

Judul film ini berasal dari sandiwara tahunan yang ditampilkan oleh para pegawai dan pasien, yang menceritakan perilaku tidak berperikemanusiaan, langkah-langkah yang diambil pihak berwajib, dan kurangnya perawatan yang baik bagi pasien-pasien dengan gangguan serius. Hal ini merupakan contoh pertama dari salah satu tema utama Wiseman, yaitu usaha oleh individual manapun untuk mempertahankan sisi kemanusiaan mereka, sementara hal tersebut jelas-jelas bertentangan dengan peraturan-peraturan kelembagaan yang mempunyai akibat-akibat tidak manusiawi.

High School adalah film mengenai SMU NorthEast di Philadelphia, dan menceritakan tema yang sama dalam bentuk berbeda dengan menunjukkan bagaimana murid-murid di sekolah tersebut dipaksa untuk menuruti peraturan sekolah yang keras. Bagi pihak sekolah, kepatuhan mutlak tanpa alasan adalah kemestian. Sebuah cermin dari kepatuhan mutlak yang juga berlaku dalam masyarakat secara keseluruhan. Film ini berakhir dengan adegan ketika Dr. Haller, sang kepala sekolah, membaca surat dari mantan murid sekolah itu, Bob Walter, yang meminta agar uang asuransi GI-nya diberikan kepada sekolah tersebut apabila ia terbunuh di Vietnam. Dalam surat itu, ia berkata ‘Saya cuma tubuh yang melakukan pekerjaan’.

Dari Dokumenter Radikal ke Televisi, Perbedaan dan Bentuk Popular
Sekolah direct-cinema di Amerika sebenarnya ditentang oleh pembuat film bernama Emile de Antonio, yang merasa bahwa ambisi dari pembuatan film semacam itu – naïf dan tidak bisa dicapai. Film De Antonio diilhami oleh politik Marxis dan kritik intelektual yang pedas dari kemunafikan lembaga Amerika. Artinya, ia diawasi oleh J. Edgar Hoover, FBI dan CIA sepanjang karirnya.

Film-filmnya sebagian besar dikumpulkan dari potongan gambar yang ditemukan dan diambil dari banyak sumber, terutama dari banyak film yang tidak digunakan di jaringan liputan berita. Ia dengan sengaja membuat film yang menciptakan pandangan alternatif mengenai budaya Amerika seperti telah diketengahkan melalui televisi dan agen-agen pemerintah. Film-film tersebut termasuk Point of Order (1963), yang menunjukkan kejatuhan Senator McCarthy di acara dengar pendapat Senat Militer pada tahun 1954; Rush to Judgement (1967), yang merupakan dokumenter besar pertama untuk menantang penemuan Komisi Warren mengenai pembunuhan John F. Kennedy pada tahun 1963; In the Year of the Pig (1969), pandangan keras Amerika yang terjadi di Perang Vietnam; dan Milhouse: A Whitehouse Comedy (1972), gambaran satiris dari Richard Nixon.

De Antonio merasa bahwa karyanya sangat berlawanan dengan laporan berita yang biasa-biasa saja dan banyak disensor yang ditampilkan di jaringan televisi utama. Dalam pandangannya, berita-berita tersebut telah menyensor kenyataan. Ia juga mengutuk komersialisasi dari program berita Amerika sebagai mengecilkan arti kengerian perang dan menuntun penonton menjadi kurang sensitif terhadap rasa sakit dan duka cita. De Antonio pada dasarnya percaya bahwa televisi sebagai media sudah disalahgunakan, membosankan dan secara ideologi tidak lagi efektif.

Dalam banyak hal, kenyataan ini telah mempengaruhi dan menganggu para pembuat dokumenter untuk mensahkan kembali bentuk dokumenter. Hal ini telah menuntun beberapa dokumentaris untuk menggunakan media televisi dengan cerita narasi yang lebih radikal, atau untuk dengan membuat pendekatan-pendekatan mereka lebih berbeda dan eksperimental.

Selain itu, telah terjadi perkembangan ke bentuk yang lebih populis, yakni dengan bentuk hibrida antara dokumenter dengan opera sabun, drama fiksi dan rekonstruksi berita. Lebih lanjut, dengan mulai adanya teknologi camcoder yang terjangkau, kaum amatir telah menggunakannya dalam film Video Diaries dan untuk tujuan hiburan, seperti acara yang dibuat sebagai variasi Candid Camera.

Televisilah yang memainkan peranan penting dalam menyerap bentuk dokumenter di tahun 1970-an dan 1980-an. Keanekaragaman bentuk membuat pembuat-pembuat film dari kelompok-kelompok yang pada awalnya minoritas telah mengambil kesempatan untuk tampil lebih istimewa, dengan suara-suara khusus dan tujuan-tujuan tertentu. Hal ini penting bagi keberadaan dokumenter sebagai alat sosial yang penting untuk kelanjutan prinsip-prinsip demokratis.

Film-film non-fiksi penting mengenai feminisme telah muncul sehingga langsung menantang dominasi laki-laki dalam dokumenter. Film-film dengan tema tersebut antara lain Three Lives (1971) karya Kate Millet, Woman to Woman (1975) karya Donna Deitch, The Life and Times of Rosie the Riveter (1980) karya Connie Field, dan Daughter Rite (1978) karya Michelle Citron. Film-film ini menginginkan kembalinya ‘bahasa film’ dan menunjukkan sejarah dari problem-problem perempuan dalam masyarakat.

Serupa dengan itu, para pembuat film lesbian dan gay menemukan alat bicara di dalam dokumenter, contohnya dalam Before Stonewall: The Making of a Gay and Lesbian Community (1984) oleh Greta Schiller, John Scagliotti dan Robert Rosenberg, dan yang paling menyentuh adalah The Times of Harvey Milk (1984) karya Robert Epstein, mengenai pembunuhan Harvey Milk, seorang pejabat dan aktivis hak-hak kaum gay dan lesbian di San Fransisco.

Lebih lanjut, pembuat film dari kalangan orang kulit hitam telah menggunakan dokumenter untuk mengambil kembali sejarah dan identitas, khususnya mungkin ada di film Eyes on the Prize (1989) karya Henry Hampton, dan dalam konteks Inggris, Handsworth Songs (1986) karya John Akomfrah. Kelompok-kelompok yang ditekan atau tidak terwakilkan telah dapat membicarakan ‘kebenaran’ mereka, menunjukkan ‘fakta’ mereka dan menggambarkan ‘keaslian’ mereka, dan dalam hal ini fleksibilitas dokumenter telah membantu mereka dengan baik.

Di era 1990-an, lebih banyak lagi bentuk dokumenter yang dibuat agak murah dengan teknilogi digital baru, memenuhi jadwal televisi, dan berbicara kepada dengan penonton di seluruh dunia untuk mengambil aspek lain dari diri mereka sendiri dan dunia tempat mereka tinggal.

Proyek besar dari Era Informasi dalam memperbaiki komunikasi dan menyediakan lebih banyak waktu, tetapi belum berhasil membuat manusia dapat berkomunikasi lebih efektifl. Oleh sebab itu dokumeter sangat berharga dalam usahanya untuk mengevaluasi secara kritis kemajuan masyarakat yang seharusnya terjadi, dan implikasi nyata dari sejarah kebudayaan.

Contoh karya-karya penting lainnya adalah Shoah (1986) karya Claude Lanzmann, epic 9 jam mengenai wawancara dengan orang-orang yang selamat dari bencana; The Thin Blue Line (1988) karya Errol Morris, sebuah studi mengenai kasus pembunuhan pinggir jalan, dan Randall Adams, orang yang dipenjara karena diduga melakukan kejahatan tersebut, terbukti tidak bersalah; dan Roger and Me (1990) karya Michael Moore, sebuah perspektif dari warga yang prihatin mengenai pengkhianatan ekonomi dan sosial oleh General Motors. Semua berhasil secara internasional dan merupakan sebuah petunjuk bahwa bentuk dokumenter tetap kuat di era kontemporer. Belum lagi nama-nama seperti seperti Nick Broomfield, Molly Dineed, Clive Gordon, Robert Gardner dan Trinh T. Minh-ha yang cukup berhasil dengan film-filmnya.


Daftar Pustaka

Bill Nichols, Introduction to Documentary, Indiana University Press, 2001
________, Representing Reality, Indiana University Press, 1991
Alan Rosenthal, Writing, Directing and Producing Documentary Films and Video, Southern Illinois University Press, 1990
Michael Rabiger, Directing The Documentary, Focal Press, 1992
Sharon R. Sherman, Documenting Ourselves, The University Press Of Kentucky, 1998

Rabu, 21 Januari 2009

Istilah-istilah dalam Produksi Film dan Acara TV

Sumber : http://wakji.wordpress.com


Cuplikan dari buku berjudul MARI MEMBUAT FILM, karya HERU EFFENDY, diterbitkan oleh PANDUAN tahun 2002-2005

Berikut ini adalah beberapa Glossary/Istilah yang umum dipakai di dunia Sinematografi & Produksi Teleisi.

Acting :
Sebuah proses pemahaman dan penciptaan tentang perilaku dan karakter pribadi dari seseorang yang diperankan

Addes Scenes :
Adegan yang ditambahkan kedalam konsep asli, biasanya diambil setelah film diselesaikan

Agent (Agent Model) :
Seseorang yang dipekerjakan oleh satu atau lebih talent agency atau serikat pekerja untuk mewakili keanggotaan mereka dalam berbegosiasi kontrak individual yang termasuk gaji, kondisi kerja, dan keuntungan khusus yangtidak termasuk dalam standard guilds atau kontrak serikat kerja. Orang ini diharapkan oleh para aktor/aktris untuk mencarikan mereka pekerjaan dan membangun karir mereka

Anamorphic :
Lensa yang digunakan dalam fotografi untuk memperkecil gambar widescreen ke ukuran 35mm. Proses ini dibalik ketika memproyeksikan hasil akhir film, memunculkan gambar kembali ke ukuran normal pada layarlebar.

Answer Print :
Married Print pertama dari film yang dibuat oleh lab pemroses film, dan kemudian akan digunakan untuk menetapkan standar kualitas film yang akan diedarkan kepada publik.

Apple Box :
Digunakan untuk meninggikan seorang aktor/aktris serta suatu obyek sesuai dengan ketinggian yang tepat untuk pengambilan gambar.

Art Departement :
Bagian artistik. Bertanggung jawab terhadap perancang set film. Seringkali bertanggung jawab untuk keseluruhan desain priduksi. Tugasnya biasanya dilaksanakan dengan kerjasama yang erat dengan sutradara.

Ascpect Ratio :
Perbandingan antara lebar dan tinggi bingkai gambar (frame)
Rasio untuk tayangan televisi adalah 1,33:1 yang artinya lebar frame yang muncul di televisi adalah 1,33 kali dari tinggi.

Art Director :
Seorang asisten sutradara film yang memperhatikan administrasi, hal yang penting sehingga departemen produksi selalumengetahui perkembangan terbaru proses pengambilan film. Ia bertanggung jawab akan kehadiran aktor/aktris pada saat dan tempat yang tepat, dan juga untuk melaksanakan instruksi sutradara.

Available Lighting :
Pengambilan gambar tanpa tambahan cahaya buatan manusia

Audio Visual :
Sebutan untuk perangkat yang menggunakan unsur suara dan gambar

Art Director :
Pengarah artistik dari sebuah produksi

Asisten Produser :
Seorang yang membantu produser dalam menjalankan tugasnya

Audio Mixing :
Proses penyatuan dan penyelarasan suara dari berbagai macam jenis dan bentuk suara.

Angle :
Sudut pengambilan gambar

Animator :
Sebutan bagi seorang yang berprofesi sebagai pembuat animasi

Audio Effect :
Efek suara

Ambience :
Suara natural dari obyek gambar

Broadcaster :
Sebutan untuk seseorang yang bekerja dalam industri penyiaran

Background :
Latar belakang

Barn Doors :
Pintu berengsel yang dipasangkan di depan lampu studio yang dapat dibuka atau ditutup untuk memunculkan cahaya pada area tertentu di set.

Barney :
Bungkus kain pada pelindung yang dapat dipakaikan pada kamera film atau blimped kamera film, untuk mengurangi siara mekanisme. Ada juga heated barney yang digunakan dalam suhu dingin.

Best Boy :
Asisten Gaffer atau asisten Key Grip.

Blank :
Selongsong senapan atau pistol yang berisi peluru buatan untuk menggantikan peluru yang sesungguhnya. Blank dipergunakan dalam film untuk mencegah terjadinya kecelakaan, walaupun sesungguhnya peluru kosong itu sendiri masih berbahaya jika ditembakan dan mengenai orang dalam jarak dekat.

Blimp :
Ruangan kedap suara yang mengelilingi kamera film untuk mencekah ikutn terekamnya bunyi mekanisme kamera kedalam alat perekam suara.

Blow Up :
Perbesaran ukuran film dari 16mm ke 35mm yang dilakukan di laboratorium untuk diputar di bioskop. Istilah ini juga dipergunakan dalam fotografi untuk memperbesar foto guna keperluan display atau promosi.

Body Frame, Body Pod :
Digunakan untuk menunjang hand held camera di lapangan.

Boom Man :
Individu yang mengoperasikan mikrofon boom.

Booth Man :
Operator proyektor film. Orang yang bekerja dalam ruang proyeksi.

Breakaway :
Sebuah set atau hand property, misalnya botol atau kursi yang dirancang untuk rusak dengan cara-cara tertentu sesuai aba-aba.

Breakdown :
Biasanya merujuk pada jumlah spesifik rincian pengeluaran dalam sebuah produksi film. Dapat juga berarti pengaturan atau perencanaan berbagai adegan beserta urutan pengambilannya.

Budget :
Pengeluaran keseluruhan dari produksi film.

Blocking :
Penempatan obyek yang sesuai dengan kebutuhan gambar

Bridging Scene :
Adegan perantara di antara adegan-adegan lainnya

Back Light :
Penempatan lampu dasar dari sudut belakang obyek

Breakdown Shot :
Penentuan gambar yang sesuai dengan naskah atau urutan acara

Bumper In :
Penanda bahwa program acara tv dimulai kembali setelah iklan

Bumper Out :
Penanda bahwa program acara tv akan berhenti sejenak untuk iklan

Call :
Waktu yang diharapkan dari seorang individu anggota staf perusahaan, pemain, atau kru untuk berada di set. Jadwal biasanya didaftarkan pada call sheet yang menjadi tanggung jawab asisten sutradara dan manajer produksi.

Camera :
Sistem perangkat mekanik atau elektronik yang mengontrol pergerakan dari film yang belum diekspos di belakang lensa dan shutter dan yang menentukan gambar serta tingkatan cahaya yang masuk kedalam film. Mekanisme ini mungkin memiliki kontrol kecepatan.

Camera Boom :
Tempat kamera yang dapat berpindah, biasanya berukuran besar, tempat kamera dapat diproyeksikan keluar set dan atau dinaikan di atasnya.

Camera Departement :
Bertanggung jawab untuk memperoleh dan merawat semua peralatan kamera yang dibutuhkan untuk memfilmkan sebuah motion picture. Juga bertanggung jawab untuk penanganan film, pengisian film, dan berhubungan dengan laboratorium pemrosesan.

Cameraman :
- First Cameraman sering disebut sebagai Penata Fotografi (Director of Photography) atau kepala kameramen, bertanggung jawab terhadap pergerakan dan penempatan kamera dan juga pencahayaan dalam suatu adegan. Kecuali dalam unit produksi yang kecil, Penata Fotografi tidak melakukan pengoperasian kamera selama syuting yang sesungguhnya.
- Second Cameraman sering disebut sebagai asisten kameramen atau operator kamera, bertindak sesuai instruksi dari kameramen utama dan melakukan penyesuaian pada kamera atau mengoperasikan kamera selama syuting.
- First Assistant Cameramen sering disebut Kepala Asisten untuk pada operator kamera. Seringkali bertanggung jawab untuk mengatur fokus kamera (untuk kamera film)
- Second Assistant Cameraman, menjadi asisten operator kamera.

Camera Noise :
Bunyi Kamera. panggilan dari bagian tata suara (Sound Departement) di set untuk mereangkan bahwa ia menerima bunyi dari kamera sehingga harus digunakan kamera lain, melakukan perbaikan kamera atau diperlukan penghalusan tambahan terhadap kamera dengan menggunakan barney atau selimut.

Camera Report :
Salinan yang disimpan dalam tiap magazine film tempat asisten kameramen mencatat panjang pengambilan tiap adegan, nomer adegan, dan perintah untuk mencetak atau tidak. Laporan kamera diberikan ke laboratorium proses, bagian kamera, dan bagian produksi.

“Camera Right”, “Camera Left” :
Petunjuk bagi seorang aktor/aktris untuk berputar atau bergerak. Petunjuk ini berdasarkan sudut pandang sutradara atau kamera dan dibalik sesuai dengan keadaan aktor. Ketika menghadap lensa maka bagian kanan aktor adalah bagian kiri kamera dan juga sebaliknya.

Camera Tracks :
Lintasan Kamera yang terbuat dari metal atau lembaran kayu lapis ukuran 4 x 8 yang diletakkan dilantai untuk membawa dolly atau camera boom. Lintasan digunakan untuk menjamin kehalusan gerakan kamera.

Can :
Tempat/wadah untuk film.

Canned Music :
Musik yang belum ditulis untuk film tertentu namun telah direkam dan dikatalogkan menurut gayanya dalam perpustakaan sehingga dapat dibeli dan dipergunakan.

Casting Director :
Orang yang memimpin pemilihan dan pengontrakan aktor/aktris untuk memenuhi bagian yang dibutuhkan dalam sebuah naskah.

Century Stand :
Digunakan untuk menahan berbagai jenis bendera yang diperlukan untuk mengurangi intensitas cahaya atau untuk menghalangi sejumlah cahaya tertentu. Juga digunakan untuk menahan atau mendukung ranting daun atau efek lain yang berhubungan dengan pencahayaan.

Changing Bag :
Tas kedap cahaya dengan ritsleting ganda tempat magazines film dapat diletakkan untuk memindahkan film yang telah diekspose dan mengisi ulang magazine. Juga dibuat sehingga memungkinkan asisten kamera memasukkan tangan dan lengannya tanpa membiarkan film terkena cahaya. Biasanya digunakan jauh dari studio kaerna di studio, magazine diisi ulang diruang gelap di bagian kamera.

Character Man or Woman :
Pada saat-saat tertentu seorang aktor/aktris bermain karakter, biasanya istilah ini merujuk pada aktor/aktris yang paling sesuai secara fisik untuk peran-peran selain pemain utama romantis, peran remaja atau peran sederhana.

Cinema :
Merujuk pada Motion Picture. Berasal dari kata Yunani Kinema yang berarti gambar.

Cinema Scope :
Nama dagang untuk tujuan pemrosesan fotografi dan proyeksi yang mengikutsertakan kamera dengan lensa anamorfik atau proyektor dan ayar berlekuk ekstra panjang. Memungkinkan proyeksi dari gambar yang jauh lebih besar dari ukuran biasanya. Banyak film epic dibuat dalam Cinema Scope karena pengaruh dari ukuran terhadap penonton.

Cinematographer (Sinematografer) :
Penata Fotografi. Orang yang melaksanakan aspek teknis dari pencahayaan dan fotografi adegan. Sinematografer yang kreatif juga akan membantu sutradara dalam memilih sudut, penyusunan, dan rasa dari pencahayaan dan kamera.

Cinemobile :
Nama dagang untuk unit lokasi pembuatan film yang lengkap dan dapt berpindah-pindah, membawa peralatan dan petugasnya dan memiliki banyak ukuran mulai dari van peralatan kecil sampai dengan bus besar.

Clapper Boards :
Sepasang papan berengsel yang diketukkan saat syuting dialog ketika kamera gambar dan alat rekam suara berputar dalam kecepatan yang sinkron. frame pertama ketika papan bersentuhan kemudian disinkronkan dalam ruang pemotongan dengan bunyi “bang”, memantapkan sync antara alur suara dan alur gambar. Pada banyak tipe sistem penanda elektronik dipasangkan sisi kamera.

Commercial :
Iklan. Film pendek yang umumnya berdurasi 60, 30, atau 15 detik yang dibuat khusus untuk menjual suatu produk.

Composite Print :
Film yang telah diedit termasuk semua gambar, suara, dan musik yang telah dicetak ke dalam sebuah film.

Contact Glass :
Alat bantu penglihatan terbuat dari kaca berwarna gelap berbentuk seperti monacle yang dipakaikan ke salah satu mata Penata Fotografi selama pencahayaan set untuk memeriksa tingkatan kontras dari pencahayaan tersebut.

Cook, Cookie :
Dapat berupa kain dengan bingkai kawat atau lembaran kayu lapis atau plastik yang diberi pola daun ranting atau bunga untukmemunculkan bayangan pada permukaan datar. kadang buram atau tembus cahaya seperi sebuah scrim. berasal dari bahasa Yunani kukaloris yang berarti memecah cahaya.

Copter Mount :
Copter kamera untuk penggunaan dalam pengambilan gambar aerial helikopter yang berfungsi menjaga kamera dari vibrasi helikopter. Nama dagangnya adalah Tyler Mount.

Costume Designer :
Orang yang merancang dan memastikan produksi kostum secara sementara maupun permanen untuk sebuah film.

Coverage :
Keseluruhan koleksi hasil pengambilan gambar individual, sudut, dan set yang terdiri dari segala kebutuhan film untuk membuat sebuah cerita lengkap.

Cover Set :
Set yang digunakan untuk syuting bila adegan eksterior yang diusahakan ternyata terganggu oleh kondisi cuaca yang tidak mendukung.

Cover Shot :
Bagian dari pengambilan film untuk menyediakan materi transisi dari satu bagian adegan ke bagian adegan lain dalam sebuah adegan yang sama. Bisa juga digunakan sebagai gamabr tambahan atau cadangan kalau perekaman pertama tidak berhasil. Juga disebut sebagai “insurance”.

Cue :
Tanda bagi aktor/aktris dalam film untuk memunculkan bagiannya dalam dialog atau tindakan. Isyarat ini dapat berupa tindakan aktor/aktris lainnya, bagian akhir dari sebuah dialog, tanda dari sutradara atau isyarat cahaya.

Cue Light :
Bola lampu kecil yang dapat dinyalakan atau dimatikan oleh sutradara atau asisten sutradara dan diletakkan diluar jangkauan pandang kamera tetapi dalam jangkauan pandang aktor untuk memberi isyarat. Isyarat cahaya ini menghindari isyarat secara verbal yang dimunculkan oleh aktor.

Cut and Hold :
Perintah dari sutadara agar adegan diberhentikan namun aktor/aktris tetap berada dalam posisinya. Sutradara mungkin ingin memeriksa pencahayaan, posisi, atau mengatur adegan lain yang saling bersinggungan.

Cut Back :
Mengubah gambar dalam film secara cepat dari adegan saat ini ke adegan lain yang telah dilihat sebelumnya. Pemotongan ini Dilakukan tanpa ada transisi.

Cutting on The Action :
Menggunakan sebuah tindakan besar dari seorang aktor/aktris sebagai titik untuk masuk lebih dekat atau lebih jauh dari orang tersebut.

Cutting Room :
Tempat peralatan seorang editor film berada, misalnya moviola dan lain sebagainya dan tempat film akan digabungkan sesuai cerita yang berkesinambungan. Ruang ini biasanya ada dalam sebuah studio namun dapat saja berada pada lokasi tersendiri dan terpisah dari daerah studio.

Cut to :
Secara cepat mengubah gambar dalam film dari adegan masa kini ke adegan lainnya tanpa adanya transisi.

Credit Title :
Urutan nama-nama tim produksi dan pendukung acara

Chroma Key :
Sebuah metode elektronis yang melakukan penggabungan antara
gambar video yang satu dengan gambar video lainnya dimana dalam
prosesnya digunakan teknik Key Colour yang dapat diubah sesuai
kebutuhan foreground dan background

Senin, 12 Januari 2009

Video Transfer / Streaming

Penulis : Yusrizal
Sumber : kamerawanjurnalisindonesia.org

Video transfer
Ada dua cara melakukan tranver file vdeo melalui internet provider client, pertama melalui ftp dan yang kedua melaui server,

1. FTP
FTP adalah file transfer protocol yang memungkinkan kita mengirim data dalam kapasitas besar diantara dua computer.

Untuk melakukan transfer dengan cara ini pertama teman teman harus memiliki FTP client dan server (bisa di download secara gratis) dengan kedua client dan server ini memungkinkan kita berhubungan secara langsung antara computer di lapagan dengan computer di kantor dalam window terdapat fungsi yang sama yang di sebut remote desktop sharing dan remote access server

Pertama pilih file yang hendak di kirim – dan tinggal copy paste dari client ke server …
Permasalahannya adalah kapasitas file yang terlalu besar, nah ada sedikit tips t mempermudah teman pengiriman gambar dan tidak menghabiskan waktu berjam jam

1 down convert video file file ingest / import biasanya file asli saat kita import memiliki codec avi, mpeg-4, mpeg2, dv-pal atau wmv video codec ( tergantung camera) pada umumnya codec file ini memiliki kapasitas file yang sangat besar untuk memperkecil file ini kita bisa mengconvert file ini kedlaam bentuk xvid, divx, flc atau adopt flash.

dari pengalaman saya div x dapat mengkompress file sangat baik, unutk durasi 5 menit kita hanya memiliki file sebesar 75 mega sedang file asli hapir mencapai 2 Gb

Apa bila melakukan pengiriman melalui dialup modem pilih hsupa modem jangan hsdpa ( huawei memiliki dua pilihan hsupa atau hsdpa) hsupa memiliki kemampuan upload hingga 7,2 Mb persecon

Dengan system konversi dan hsupa modem ini saya pernah mencoba hanya di butuhkan waktu 7 menit untuk mengirim gambar dengan durasi 6 menit .

Permaslahannya kemudian adalah apakah file ini layak tayang atau tidak? Nah saat di kantor file ini kit kembalikan ke bentuk semula dengan mereconvert file yang kita kirim kalo dilapangan kita melakukan prose decoder maka di kantor harus di lalukan proses uncoder untuk mengembalikan kualitas gambar.

Sekedar info saat ini sangat banyak di jual modem hsupa dengan harga sangat terjangkau, bahkan beberapa handphone set juga sudah memiliki fasilitas ini, jadi kita bisa mengirim gambar melalu hp juga.

BGAN (broadband global area network adalah jaringan internet dengan menggunakan satelit yang di prakarsai oleh imarsat/ Bgan sitem sendiri terbagi 2 yaitu REGIONAl bgan dan GLOBAL access

secara garis besar bgun bisa juga dikatakan kumunikasi dengan menggunakan satelit/ penggunaan bgan secara dasar adalah unutk komunikasi suara dan transfer data, jadi bgan hanya memberi access internet sedangkan untuk proses lainnya di butuhkan software penunjang pengalaman pelatihan, bgan hanya mampu mentranfer data dengan kecepatan maksimal 429 kbs dengan lokasi di gedung indosat jakarta barat/ kecepatan ini jauh lebih rendah dengan kecepatan broadband yang mampu mencapai kecepatan hingga 7,2 MBs

sementara sistem transfer sendiri terserah kita menggunakan apa

sementara LIVEWIRE adalah nama software yang di gunakan unutk melakukan streaming video dan audio/ livewire ini juga dapat berfungsi sebgai internet tv searching

secara garis besar software ini mampu melakukan pencarian video dan audio melalui streaming livewire ini sendiri saat ini masih menggunakan format hyperlink .

unutk saat ini mungkin stream box lebih ungul dibanding livewire/ karena stream box memungkina kita untuk siaran life dengan badwith sangat kecil/ menurut data stream box ini hanya membutuhkan speed kisaran 200 KBs untuk melakukan tranfers data in real times.
untuk lebih jalas informasi tentang stream box ini silahkan liat di bgan (broadband global area network adalah jaringan internet dengan menggunakan satelit yang di prakarsai oleh imarsat/
Bgan sitem sendiri terbagi 2 yaitu REGIONAl bgan dan GLOBAL access network

secara garis besar bgun bisa juga dikatakan kumunikasi dengan menggunakan satelit/ penggunaan bgan secara dasar adalah unutk komunikasi suara dan transfer data,

pengalaman pelatihan, bgan hanya mampu mentranfer data dengan kecepatan maksimal 429 kbs dengan lokasi di gedung indosat jakarta barat/ kecepatan ini jauh lebih rendah dengan kecepatan broadband yang mampu mencapai kecepatan hingga 7,2 MBs

untuk saat ini mungkin stream box lebih ungul dibanding livewire/ karena stream box memungkina kita untuk siaran life dengan badwith sangat kecil/ menurut data stream box ini hanya membutuhkan speed kisaran 200 KBs untuk melakukan tranfers data in real times. info lebih lanjut tentang streambox silakah liat di www.streambox.com/

sedikit tambahan cara melihat bandwith adalah
1 KB= 8Kb jadi jika kecepayan 256 kbs ,sebenarnya hanya memiliki bandwith sebesar 64 KB

Rabu, 24 Desember 2008

Tips Menjadi Reporter

Siapa Itu Reporter?
Berdasar arti kata yang berasal dari bahasa asing, “pembuat laporan”.

Fungsi Reporter
Bayangkan musafir, yang mengembara ke mana-mana, kemudian menyampaikan cerita yang menarik hasil pengembaraannya kepada orang lain yang ingin mendengarkan ceritanya.

Apa Saja Yang Harus Diperhatikan?

1. Tanggung jawab (kebenaran, urgensi dan relevansi terhadap situasi)
2. Menulis efisien (pendek, tapi bermutu)
3. Bahasa gambar (tiap naskah, apa gambarnya?)
4. 2 in 1 dengan cameraman
5. Pengetahuan luas

Sudahkah Anda Meningkatkan Pengetahuan?
1. Apakah kemarin membaca buku? Buku apa? Berapa bab atau halaman?
2. Apakah kemarin membaca koran? Berapa koran?
3. Apakah sudah menulis kemarin? Tentang apa dan berapa banyak?
4. Nonton film? Ikut seminar atau ceramah? Dapat input apa?

Modal Lain?
1. Jaringan/ persahabatan
2. Rasa ingin tahu yang besar
3. Perpustakaan sendiri. Why not?
4. Bahasa asing
5. Internet and technology minded
6. Intuisi
7. Berani tampil

Yang Dibutuhkan Industri?
Reporter yang kritis, kreatif dan penuh vitalitas untuk memperoleh berita yang baru dan bermakna bagi banyak orang.
Semoga bermanfaat

sumber: pojokspy.blogspot.com

Stasiun TV (Indonesia)

Stasiun televisi di Indonesia ada sejak berdirinya TVRI pada 1962 silam . Selama 27 tahun, Indonesia hanya bisa menyaksikan satu saluran saja , Namun pada tahun 1989 , Pemerintah akhirnya mengizinkan RCTI sebagai stasiun televisi swasta pertama di Indonesia , meski hanya penduduk yang mempunyai Parabola dan Dekoderlah yang dapat menyaksikan RCTI tetapi akhirnya dibuka untuk masyarakat mulai Tanggal 21 Maret 1992 di Bandung.












Berikut adalah daftar stasiun televisi di Indonesia.

Televisi nasional
Cakrawala Andalas Televisi (antv)
Global TV
Indosiar Visual Mandiri (Indosiar)
tvOne
MetroTV
Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI)
Surya Citra Televisi (SCTV)
Televisi Pendidikan Indonesia (TPI)
Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV)
Trans 7
Televisi Republik Indonesia (TVRI)

Televisi khusus
Televisi Edukasi (TV E)
Swara
QTV

Televisi lokal
Daftar TV Lokal Indonesia

Televisi berbayar
Astro Nusantara
B-TV
HomeCable
IM2 PayTV
Indovision
M2V Mobile TV
Telkomvision

Lihat pula
Daftar stasiun radio di Indonesia

Pranala luar
(id) Stasiun TV di Indonesia


Situs Televisi nasional
(id) Situs web antv
(id) Situs web Global TV
(id) Situs web Indosiar
(id) Situs web MetroTV
(id) Situs web RCTI
(id) Situs web SCTV
(id) Situs web TPI
(id) Situs web Trans TV
(id) Situs web Trans 7
(id) Situs web tvOne
(id) Situs web TVRI


Situs Televisi khusus
(id) Situs web SWARA Channel
(id) Situs web Qtv Network


Situs Televisi berbayar
(id) Situs web Astro Nusantara
(id) Situs web HomeCable
(id) Situs web IM2 Pay TV
(id) Situs web Indovision
(id) Situs web M2V Mobile TV
(id) Situs web Telkomvision


Televisi lokal di Indonesia

Aceh TV · Agropolitan TV · Ambon TV · Amuntai TV · ATV · Bali TV · Bandung TV · Banjar TV · Banten TV · Batam TV · Batu TV · Bengkulu TV · BiTV · BMS TV · Bogor TV · Borneo TV · Bukittinggi TV · Bunaken TV · Cahaya TV · Carita TV · Cakra TV · CB Channel · CT Channel · Da Ai TV · Deli TV · Depok TV · Dhamma TV · Dhoho TV · Duta TV · Elshinta TV · Eskape TV · Fajar TV · Fativi · Ganesha TV · Gemilang TV · Gajayana TV · GO TV · GNTV · Gorontalo TV · GTV · HKTV · IMTV · INTV · Jabar TV · JakTV · Jatilihur TV · Jogja TV · JTV · Kandangan TV · Karesidenan TV · KCTV · Kendari TV · KSTV TV · L TV · Logis TV · Lombok TV · Mahameru TV · Makassar TV · Malang TV · Megaswara TV · Metro Papua TV · MGTV · Minang TV · MQTV · Murakarta TV · nTV · O Channel · Pacific TV · Padang TV · Padjadjaran TV · Palembang TV · Pal TV · PKTV · Plaza TV · Pro TV · PKTV · Rantau TV · Ratih TV · RBTV · Riau TV · Riauchannel · SAM TV · Semarang TV · Selidah TV · Siger TV · SJTV · Sky TV · Spacetoon (TV Anak) · Sri Junjungan TV · Sriwijaya TV · SSTV · STV Bandung · STV Batam · Suma TV · Suroboyo TV · TA TV · Tabalong TV · Tarakan TV · Televisi Tegal · Televisi Manado · Terang Abadi TV · Tugu TV · TPKS · TVB · TV Borobudur · TVKU · TV Majta · TVT · TV5d · Universitas Gunadarma TV · VTV

-------------------------------------------------------------------
Sumber lengkap:
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Show Director/Program Director

Di Amerika bahkan muncul berbagai istilah dengan Job Description yang lebih spesifik seperti Stage Director, Floor Director, Floor Manager, Program Director, Event Coordinator, Event Manager,Festival Organizer, Network Director dll.
Istilah ini bebas dipakai oleh institusi mana saja (broadcast dan non broadcast) sesuai dengan keperluan, fungsi dan tujuan masing2x. Yang menarik walau istilah ini banyak yang membingungkan tapi job descriptionnya sangat jelas dan tidak bertabrakan satu dengan lainnya.Saya mencoba mencari jawaban tentang ini dari berbagai referensi buku seperti The Film Industry (by Fred Yager & Jan Yager/checkmark book), Basic Studio Directing (By Rod Fairweather/ Focal Press)dan This Business of Music Marketing & Promotion (by Lathrop) tapi tidak ada definisi yang baku. Setiap events mempunyai job desc yang berbeda.
Jadi, untuk lebih jelasnya, saya akan mencoba menuliskan perbedaan berdasarkan fungsi dan kob descnya, bukan dari definisinya.Show DirectorBertugas menjadi Sutradara Pentas atau Pengarah Lakon Panggung atau Pengarah Pagelaran. Disini, Show Director bertanggungjawab pada kemasan pagelaran diatas panggung mulai dari Tata Artistik Panggung, Sound, Rundown Pentas Acara, Lighting Direction hingga ke urusan Stage Management lainnya seperti Wardrobe, Make Up, Props, dan lainnya.
Show Director tidak bertanggung- jawab pada liputan tayangan Broadcast namun wajib berkompromi dengan Program Director dari Stasiun Televisi untuk mendapatkan Blocking yang Pas dan bagus, baik untuk Penonton Panggung maupun untuk Penonton Televisi.... Namun istilah ini seringkali dirancukan dengan Art Director. Misalnya, Jay Subijakto itu dikenal sebagai Art Director konser2xnya Erwin Gutawa. Disini Jay mempunyai kapasitas lebih memikirkan dimensi2x artistik dari pagelaran dan sebenarnya, Jay sudah merangkum pekerjaan Show Director. Namun, Jay justru membagi pekerjaan stage management dengan Stage Manager... Stage ManagerBertugas membantu Show Director dalam mengkoordinasikan seluruh aktifitas dibalik panggung. Stage Manager ini mempunyai kewenangan penuh untuk mengatur jalannya konser/acara dari balik panggung, termasuk menyiapkan seluruh pengisi acara untuk siap tampil.
Kalau Show Director mengarahkan dari depan panggung dan mensupervisi Lighting dan Audio, Stage manager justru berada dibalik panggung. Stage manager tidak bertanggung jawab sama sekali dengan liputan Broadcast dan on-air. TV Director/Program DirectorDi Amerika dikenal sebagai Program Director yang dapat didefinisikan sebagai seseorang yang mampu menyutradarai produksi Drama atau Non Drama dengan Single atau Multi Camera untuk studio maupun outdoor. Bila program acara diproduksi oleh Stasiun Televisi maupun Production House, seorang Program Director merangkap sebagai Show Director dan bertanggung jawab pada STAGE dan ON-AIR. Inilah yang dilakukan oleh para PD2x di Indosiar dan ANTV.
Sedangkan di RCTI ataupun SCTV, PD hanya bertanggung jawab pada ON-AIR saja, sedangkan content untuk STAGE dipegang oleh Produser ataupun Production Assistant. Nah, istilah Program Director ini ternyata diinterpretasikan secara SALAH orang para senior kita di TVRI. Program Director diterjemahkan bebas menjadi Pengarah Acara! padahal seharus tetap diinterpretasikan menjadi Sutradara Acara atau Sutradara Program. Ini memang kacau, sementara istilah Floor Manager tidak diistilahkan menjadi Manajer Lantai atau Manajer Ubin, tapi tetap memakai istilah Floor Manager..... Lainnya, lagi kalau di Amerika dikenal TV Director ini artinya Sutradara TV tapi kalau di Indonesia dipakai TV Director maka diartikan menjadi Direktur TV

sumber: pojokspy.blogspot.com

Elemen Programming

Ada empat elemen dalam mengatur strategi penjadwalan atau programming televisi:
1. Programming:
Menganalisa angka peringkat rating penonton berdasarkan SES (Social Economy Status), segmentasi, jam tayang, pola penonton, genre dan juga trend.
2. Production:
Mengkaji sisi produksi dari setiap acara mulai dari Format (drama, non drama, news/sport), Story Treatment, Production Cast (artis, bintang,band, dll), directing, production design (artistik,grafik, shot,editing, wardrobe) dsb.
3. Marketing:
Membahas strategi marketing dan sales untuk mendapatkan profit. Topik antara lain tentang harga spot iklan, build in product, pre-sales, brand awareness, brand differentiation, target konsumen, blocking time, packaging price, product values, dll
4. Purchasing & Distribution:
Disinilah perhitungan harga produksi, pembelian program/film, distributors, suppliers, dll, yang disesuaikan dengan kemampuan daya beli stasiun televisi. Dikaji juga Programming Value per detik dari biaya rata2x operasional stasiun tv setiap detik.Jadi,bisa dibayangkan kan? kalau penempatan jam tayang sinetron atau film sering dianggap tidak tepat, itu menurut versi publik/penonton.

Tapi kalau menurut versi stasiun tv pasti sudah melewati tahap elemen diatas, yang dianggap merupakan hasil analisa penonton juga. Memang kusut, tapi begitulah media kapitalis televisi. Sebagai input, di Amerika saja sampai ada gerakan moral yang disebut "You own your tv".

Gerakan ini mengajak publik untuk mengontrol tontonan televisi karena pesawat tv milik kita bukan milik stasiun/kabel tv. Jadi, mengapa harus bergantung pada mereka? Merekalah yang harus mendengarkan kemauan publik.
Dan ini bukanlah kesalahan lembaga riset AC Nielsen. Karena AC Nielsen hanya mengeluarkan hasil peringkat rating berdasarkan tontonan yang disajikan oleh para programmer televisi... begitu isi gerakan ini.

sumber: pojokspy.blogspot.com

Riset Dalam Produksi Dokumenter

Ide film bukan wahyu yang datang begitu saja, tapi merupakan kumulatif dari serangkaian pengamatan dan pengalaman yang mengendap dalam ingatan lalu muncul kembali sebagai sebuah ide. Secara tidak sadar, proses penemuan ide adalah bagian dari proses riset yang sudah kita lakukan ketika kita mengalami ataupun mengamati sebuah gejala.
Rangkaian kegiatan sistematis yang dilakukan untuk memahami sebuah fenomena, baik fenomena alam maupun fenomena sosial-budaya.

Fungsi Riset Dalam Produksi Dokumenter
1. Proses Kreatif
Merumuskan ide film, film statement, dan alur bertutur film. Termasuk di dalamnya
membangun raport dengan subyek dan menggali elemen audio visual yang akan menjadi
bagian dari film.
2. Manajemen Produksi
Mengatur jadwal, perijinan, akses, budgeting, dsb.

Pengumpulan Data di Lapangan
1. Observasi (pengamatan, partisipasi)
2. Wawancara
3. Audio Visual (merekam)

Menuliskan Kembali Hasil Riset
1. Mengkategorisasi data
2. Mengidentifikasi data-data penting
3. Mencari hubungan sebab akibat
4. Mengaitkan fenomena spesifik dengan konteks yang lebih besar

Tips-tips melakukan penelitian lapangan
1. Stay alerted (peka terhadap berbagai hal)
2. Bertanya
3. Mencatat
4. Merekam secara visual

sumber: pojokspy.blogspot.com

Penyutradaraan Dokumenter

Menempatkan KAMERA dalam menyampaikan IDE


GOAL UTAMA

- Mengarahkan penonton untuk mencapai sebuah kesatuan ide, memahami pesan, secara persuasif.
- Mempersiapkan sebuah hasil teknis perekaman gambar dan suara yang baik untuk tahap penyelesaian film (Pasca Produksi).


Menjadikan manusia sebagai SUBYEK bukan OBYEK

MENAMPILKAN SUBYEK

- Menempatkan kamera dalam menunjukkan apa yang dilakukan Subyek dalam menyampaikan gagasan.
- Melakukan observasi visual yang mendalam terhadap subyek
- Membuat subyek mengungkapkan PIKIRAN (verbal) yang mendasari atau menjelaskan apa yang dilakukannya
- Pengadeganan ulang terhadap apa yang diceritakannya, mengarahkan subyek dan menempatkan kamera seperti dalam pendekatan observasi.

OBSERVASI
Menempatkan kamera berada dalam jarak aman dan jarak dekat dengan subyek.
Menciptakan hubungan sehingga subyek nyaman terhadap kamera.


MENGOPTIMALKAN PENGGUNAAN UNSUR SUARA

- Sumber informasi audio yang membentuk visual menjadi utuh. Mengarahkan gagasan. Suara hasil wawancara, rekaman pembicaraan subyek, musik, suara musik dan suara lingkungan.
- Menghindarkan sumber suara ganda dalam proses perekaman yang melibatkan suara, seperti dalam wawancara dan lainnya.
- Merekam suara dari adegan agar dapat digunakan dalam proses penyelesaian.


Prinsip dasar dalam melakukan wawancara

1. Harus selalu kontak mata antara si pewawancara dengan yang diwawancarai.
2. Si pewawancara harus penuh ketekunan mendengarkan semua jawaban narasumber dengan sesekali memberikan respon visual (mengangguk, menggeleng, atau yang lainnya) sehingga nampak terjalin komunikasi dengan narasumber.
3. Jangan memberikan respon suara yang akan mengganggu konsentrasi narasumber dan masuk dalam rekaman sehingga nantinya menyulitkan penyuntingan (editing).

4. Bila ingin hasil yang natural, maka pertama-tama si pewawancara dahulu yang harus nampak natural ketika melemparkan pertanyaan, terutama jangan sekali-kali menggunakan bahasa formal sehingga nampak aneh dan membuat jarak dengan narasumber.
5. Coba bangun suasana layaknya dua orang sedang ngobrol santai. Bisa dimulai sejak sebelum rekaman dimulai, si pewawancara sudah melakukan pendekatan terlebih dahulu dengan narasumber. Yakinkan narasumber jangan takut salah dan bisa diulang dengan mudah.
6. Pertanyaan yang diajukan harus jelas dan singkat, sehingga narasumber tidak salah menanggapi.

7. Jangan pernah membuat pertanyaan yang sifatnya mengkonfirmasi saja dan membuat jawabannya sangat pendek dan tidak memberikan informasi apa-apa.
8. Pertanyaannya harus membuat narasumber bercerita, maka bunyi pertanyaannya akan banyak di dominasi oleh “Coba ceritakan pengalamanmu....?” “Bagaimana...? Mengapa? Apa yang kamu rasakan? Dan lain-lain.
9. Untuk menjamin wawancara dengan narasumber terekam dengan baik, pastikan suaranya juga terdengar jelas di kamera. Agar suara terdengar jelas, letak kamera tidak boleh terlalu jauh dari sumber suara. Baik sekali kalau ada microphone eksternal yang bisa diletakkan dekat dengan narasumber.

MEMBUAT B-ROLL

Menempatkan kamera pada situasi di luar subyek yang mendukung gagasan subyek, dan memperkuat gagasan berkait dengan apa yang diceritakannya.
Contoh :
Situasi situasi di sekitar subyek. Foto foto dan gambar gambar pendukung
Rekaman rekaman yang menarik dari lingkungan yang menciptakan suasana : Musik, situasi komikal dan kontras.


GAYA dalam PENYUTRADARAAN

1. Observasional
2. Free handheld kamera
3. Pendekatan jurnalistik. Hand Held, Teleshot observasion


KAMERA SEBAGAI PENA

Dalam film yang baik kamera menjadi kuas yang di-eksplorasi dalam berbagai dimensinya. Tebal dan tipis, halus dan kasar.
Menyampaikan gagasan juga memiliki tujuan untuk MENYENTUH perasaan penontonnya

PROSES PASCA PRODUKSI

Melakukan proses re-konstruksi dari semua materi visual dalam membentuk ide utama dan menyampaikan pesan /gagasan.
Mengarahkan konstruksi unsur suara. Insert dari bahan bahan wawancara, sumber suara B-roll, musik dan lain lain.

sumber: pojokspy.blogspot.com

Video Klip

VIDEO KLIP adalah kumpulan potongan-potongan visual yang dirangkai dengan atau tanpa efek-efek tertentu dan disesuaikan berdasarkan ketukan-ketukan pada irama lagu, nada, lirik, instrumennya dan penampilan band, kelompok musik untuk mengenalkan dan memasarkan produk (lagu) agar masayarakan dapat mengenal yang selanjutnya membeli kaset, CD, DVD.
Memberikan imbas bagi seluruh stasiun TV untuk mendapatkan pemasukan dari iklan yang membeli tayangannya baik dalam bentuk program musik atau sebagai iklan itu sendiri, bahkan juga memberikan kesempatan bagi seluruh insan muda yang kreatif baik sebagai sutradara atau crew kreatif di dalamnya.
HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MEMBUAT VIDEO KLIP
1. SIMBOL
Tidak perlu adanya keselarasan antara gambar dan lirik, bahkan seringkali tidak
ada hubungan antar keduanya.
2. VERBAL
Gaya desain penggambaran akan disesuaikan dengan isi lirik (gambar dan lirik saling
menyatu).
UNSUR VIDEO KLIP
1. Bahasa Ritme (irama)
Pelajari birama dulu apakah slow beat, fast beat, middle beat dan coba rasakan
dengan ketukan-ketukan kaki untuk memperoleh tempo yang pas.
2. Bahasa Musikalisasi (instrument musik)
Pembuat Video Klip atau biasa disebut VIDEO CLIPPER haruslah mempunyai
sebuah wawasan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan musik baik itu jenis
musik, alat musik, bahkan juga profil band.
3. Bahasa Nada
Perhatikan aransemen nada, diskusikan dengan piñata musiknya tentang aransemen
yang dibuat. Selanjutnya rasakan dengan hati nada-nada tersebut.
4. Bahasa Lirik
Seorang VIDEO CLIPPER dituntut mempunyai sebuah imajinasi visual terhadap
lirik dan lagu walaupun tidaklah harus secara verbal.
Jika ada lirik yang mengungkapkan kata ‘CINTA’ maka sebagai simbolisasi tidak
harus dengan bunga, warna pink, atau hati. Bisa saja berupa kertas (surat), sepatu
butut (cinta tanpa mengenal status social), air (cinta yang mengalir). Atau bahkan
bias dengan tarian kontemporer.
5. Bahasa Performance (penampilan)
Selami karakter pemusik, penyanyi, pemain band baik dari latar belakang
bermusiknya, hingga ke profil fisiknya (hidung, mata, style, fashion dan gerak tubuh).
TEKNIS SEDERHANA PEMBUATAN VIDEO KLIP
1. PENENTUAN LOKASI SYUTING
INDOOR
Indoor on place (café, rumah, gedung pekantoran)
Kebutuhan akan property sedikit lebih simple karena kebutuhan property seperti seperti meja, kursi, lemari, lampu hias, buku, dan sebagainya sudah tersedia. Penambahan property cenderung untuk melengkapi kebutuhan story board.
Indoor Studio
Harus mampu menata, membuat bahkan membangun set design sesuai denga kebutuhan story board. Hal ini menjadikan kemampuan pengembangan estetika seni mendapat peranan besar, karena tudgas seorang piñata artistic haruslah menciptakan bukan memanfaatkan set yang sudah ada.

OUTDOOR
Cenderung memanfaatkan segala property dan nuansa alam yang sudah ada dan cenderung yang lebih banyak diadopsi adalah natural keunikan alam atau lingkungannya (di pantai, pasar, gunung, dsb)

2. STORY BOARD
Dalam memproduksi video klip hal pertama yang harus dituangkan dari konsep adalah STORY BOARD, karena dari story board seorang sutradara video klip dapat mengungkapkan imajinasinya melalui gambar-gambar konsep visual yang bercerita.
Dari story board lah seorang klipper akan lebih mudah berkonsentrasi dalam hal-hal yang bersifat teknis visual, penataan cahaya, penataan artistic, camera angle, ataupun performance sang artis.

3. PERALATAN SYUTING/ PRODUKSI
Peralatan yang dibutuhkan sangat ditentuntukan oleh klip seperti apa yang akan dibikin, hanya saja pasti ada alat utama yang harus ada terutama :
CAMERA dengan kelengkapan seperti tripod, dolly, dolly track, crane.
LIGHTING dengan kelengkapan stang, filter, dsb

4. MEMPERKUAT CREW
Pastikan anda bersama crew dan tim yang kompak dengan dipimpin seorang sutradara dalam pelaksanaan produksinya. Dalam penentuan crew tidak ada patokan berapa jumlahnya. Semuanya sangat tergantung dari produksi itu sendiri seberapa banyak ia membutuhkan tenaga.

5. PENGAMBILAN GAMBARSetiap gambar yang diambil tentunya berdasarkan story board yang telah dibuat. Shot-shot untuk video klip sebenarnya tidak ada aturan khusus secara teknis tetapi dalam instruksi dan istilah-istilah yang dipakai tetap menggunakan aturan secara umum. Misal : Close Up, Medium shot, Cut, Cue, Running, dsb. Hal ini tentunya adalah untuk memudahkan dalam hal pelaksanaan teknis saat pra produksi, produksi dan editing.
6. EDITING
Pada era yang serba digital ini, editing mempunyai peranan yang cukup penting dalam proses akhir produksi sebuah video klip. Bahkan editing juga dapat mengatasi segala keterbatasan alat pada saat produksi untuk memperoleh hasil yang sesuai dengan story board.
Namun dengan hebatnya teknologi editing yang ada, sebagai seorang video klipper tetap dituntut harus mampu memperoleh produksi semaksimal mungkin tanpa tergantung dari editing.
Selamat berkarya..

sumber: pojokspy.blogspot.com

Feature

Feature adalah jenis berita yang sifatnya ringan dan menghibur. Menjadi seorang penulis feature harus memiliki ketajaman dalam memandang dan menghayati suatu peristiwa. Serta mampu menonjolkan suatu hal yang meski umum namun belum terungkap seutuhnya yaitu sisi humanisme.

BERDASARKAN TIPENYA FEATURE DAPAT DIBEDAKAN MENJADI
1. Feature Human Interest
Langsung menyentuh keharuan, kegembiraan, kejengkelan, simpati). Misalnya, cerita tentang penjaga mayat di rumah sakit, lika-liku kehidupan seorang guru atau dokter di daerah terpencil, atau kisah seorang menimbulkan kejengkelan (Contoh tayangannya : Program kejamnya Dunia, Investigasi, Jendela, Delik, derap Hukum, dll).

2. Feature Pribadi-Pribadi Menarik Atau Feature Biografi
Misalnya riwayat hidup seorang tokoh yang meninggal, tentang seorang yang berprestasi atau seorang yang memiliki keunikan sehingga bernilai berita tinggi (Contoh tayangannya : Program Silet, dll).

3. Feature Perjalanan
Misalnya kunjungan ke tempat bersejarah di dalam ataupun di luar negri, atau ke tempat yang jarang dikunjungi orang. Dalam feature jenis ini, biasanya unsur subjektifitas menonjol, karena biasanya penulisannya yang terlibat langsung dalam peristiwa/perjalanan itu mempergunakan “Aku”, “Saya”, atau “Kami” (sudut pandang ‘Point Of View’ orang pertama) (Contoh tayangannya : Program Menantang batas, Koper & Ransel, dll).

4. Feature Sejarah
Yaitu tulisan tentang peristiwa masa lalu, misalnya peristiwa proklamasi kemerdekaan, atau peristiwa keagamaan, dengan memunculkan “tafsir baru” sehingga tetap terasa aktual untuk masa kini. (Contoh tayangannya : Program Silet, Program Khusus, dll).

5. Feature Petunjuk Praktis (TIPS)Yaitu mengajar keahlian, how to do it. Misalnya tentang memasak, merangkai bunga, membangun rumah, dan sebagainya (contoh tayangan : Program Sisi Lain, Good Morning, dll).

STRUKTUR TULISAN
Menulis Feature tidak ada aturan khusus. Namun demikian, dalam menulis feature, usahakan apa yang ditulis itu tidak monoton. Data yang diungkapkan kuat, detail, fakta, harus ada dan benar. Sebenarnya menulis feature lebih tergantung pada kekuatan menulis atau ketrampilan menulis.

JENIS-JENIS FEATURE
Adapun jenis-jenis feature di antaranya :

1. Feature Berita
Yang lebih banyak mengandung unsur berita berhubungan dengan peristiwa aktual yang menarik perhatian khalayak. Biasanya merupakan pengembangan dari sebuah straight news. (Contoh tayangan : Program Investigasi, Delik, Sigi 30 menit, dll).

2. Feature Artikel
Yang lebih cenderung segi sastra. Biasanya dikembangkan dari sebuah berita yang tidak aktual lagi atau berkurangnya aktualitasnya. Misalnya, tulisan mengenai suatu keadaan atau kejadian, seseorang suatu hal, suatu pemikiran, tentang ilmu pengetahuan, dan lain-lain yang dikemukakan sebagai laporan (informasi) yang dikemas secara ringan dan menghibur. (contoh tayangan : Program Jakarta Underground (atmosphere) Jejak Malam, Fenomena dll).

sumber: pojokspy.blogspot.com

Teknik Live Reporting

Daya tarik televisi sebagai media sebagian sangat tergantung pada kemampuannya untuk menayangkan sebuah event secara langsung. Menariknya siaran live, tidak hanya karena pada unsur partisipasi dan kehadiran stasiun tersebut pada event yang dimaksud, tapi pada asumsi yang dimunculkan, bahwa apa yang kita saksikan tak termediasi, tak terkontaminasi dan akurat. Oleh karena itu kemampuan Live Report sangat penting. Live Report menggabungkan konsep program berita dan reality show.
Dibawah ini beberapa tips untuk menghasilkan Live Report yang baik
1. Pre – Reporting Preparation
- Check and Re-check, kebenaran even/topic yang menjadi subyek laporan. Mencakup
(waktu, tempat dan nara sumber)
- Lakukan riset bahan melalui telpon, internet ataupun media lainnya.
- Persiapan personal dan teknis.
2. On Location
- Kumpulkan semua informasi dan data awal yang didapat dari lapangan
- Get ambiance of the venue
- Pastikan anda tidak menghadapi kendala teknis ketika ”on air”.
- Bekerjalah dengan efektif dan efesien, ” time is everything ” here.
3. 30 detik sebelum On air
- Pastikan anda merasa nyaman dengan suasana tempat anda akan melaporkan dan anda
nyaman dengan diri anda sendiri
- Anda memiliki semua materi siaran dan menguasainya
- Anda percaya diri dengan penampilan anda
- Fokuskan pikiran anda pada materi laporan, bukan pada yang lain
- Menghafal atau pointers
- Use effective and appropriate non verbal language ( mimic, gesture, head movement and off
course … smile)
- Jangan pernah lupa memberikan atribusi untuk data yang anda kutip.

sumber : pojokspy.blogspot.com

Jumat, 05 Desember 2008

Teknis Tayangan Berita Televisi

Penulis : Dede Molkan
Sumber : jurnalistikuinsgd.wordpress.com
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Hal-Hal Teknis dalam Televisi

Hal-Hal Teknis dalam Televisi yang Harus Diperhitungkan:
-Pesan Media Televisi sifatnya sekilas sehingga pesan cepat terlupakan
-Metode paling sederhana di dalam penempatan gambar di televisi adalah:
Metode TRIANGGULASI(menempatkan benda tepat di bagian tengah layar)
Ketika mengambil gambar seseorang, harus diperhitungkan komposisi pada ruang kosong di
atas kepala.Inilah yang disebut: HEAD ROOM (ruang kepala)
Ketika melakukan pengambilan gambar, kamera tidak boleh melewati garis arah gerakan,
disebut: GARIS IMAJINER

Hal-hal yang harus diperhatikan:
- Televisi sifatnya sekilas à pesan cepat terlupakanKonsekuensi: harus membuat kata/kalimat yang mudah diingat
- Pesan Televisi disajikan dalam bentuk audio-visual(suara dan gambar) à “No Picture no News”Konsekuensi: jangan memberikan penjelasan terhadap gambar.
- Gambar dalam televisi sangat terbatasKonsekuensi:kamera harus merekam apa yang ingin diketahui pemirsa
- Televisi lebih mengutamakan gambar (visual)Konsekuensi:- mendahulukan ada gambarnya, ketimbang artistik gambar.
- pemirsa lebih tertarik pada gambar dari pada kata-kata.

KEMASAN BERITA TELEVISI:
1. BERITA COPY
- Berita Copy, merupakan cara paling dasar dan sederhanadalam menyampaikan berita di televisi
- Berita Copy dibuat, jika peristiwanya sangat penting
- Bisa dibuat dengan cepat, karena tidak perlu persiapanyang terlalu banyak.
- Tidak ada gambar, karena berita baru saja terjadi, bahkanmungkin masih berlangsung.
- Bisa dilakukan dengan cara “phono” (penyiar meneleponlangsung reporter yang berada di lokasi kejadian)
- Jika memiliki perangkat SNG, bisa ditayangkan langsungdari lokasi kejadian à on the spot
- Presenter tampil di layar, membacakan berita copysecara utuh dari awal sampai akhir
- Lamanya berita copy antara 30-45 detik

2. READERS / GRAFIX
- Readers/Grafix, merupakan cara paling dasar berikutnya
- Format ini digunakan jika sebuah peristiwa, baru sajaterjadi dan reporter belum memiliki akses untuk merekamgambar kejadian ke dalam kaset video.
- Presenter hanya tampil membacakan intro, diikuti dengantayangan grafis (data, angka, peta lokasi, still foto, dll.)
- Presenter masih terus membacakan berita, ketika gambaratau grafis tersebut ditayangkan.- akhir dari berita readers/grafix, bisa di wajah anchoratau di gambar/grafix yang ditayangkan- Lamanya berita Readers/Grafix: 15-30 detik.

3. CLIPS ONLY
- Intro dibacakan Anchor, disusul dengan Sync Narasumber
- Berita Clips Only, akan dimunculkan jika Narasumbermerupakan orang yang sangat penting
- Atau jika sync dari narasumber “menghebohkan”
- Intro yang dibacakan Anchor maksimum 3 kalimat
- Lamanya berita Clips Only: 40-45 detik
- Intro memuat: Topline, Background dan Context
- Topline: kalimat pertama dari sebuah intro- Background: latar belakang fakta, mengapa peristiwa terjadi
- Context: kejadian lain yang terkait dengan peristiwa itu

4. OoV (Out of Vision)
- Berita hanya dibacakan Anchor tanpa Voice Over (VO)
- Ketika membacakan intro, Anchor muncul di layar,disusul dengan gambar tanpa VO.
- Ketika gambar sedang ditayangkan, Anchor masih tetapmembacakan berita OoV.
- Ketika gambar selesai, Anchor masih membacakan berita
- Alasan dibuatnya berita OoV:
- tidak cukup waktu untuk dibuat jadi berita paket
- tidak cukup kuat untuk dibuat jadi berita paket
- Lamanya berita OoV: 45 detik

5. BERITA PAKET (PACKAGE)
- Unsur penting yang harus ada dalam berita paket:
a. Intro à dibacakan oleh Anchor
b. Sequences à gambar-gambar dari peristiwa berita
c. Sync à suara langsung dari narasumber
d. Voice Over (VO) à narasi berita di-dubbing oleh Reporter
e. Stand-Up à reporter tampil di layar mengakhiri berita
f. Natural Sound (natsound) à suara alami di lokasi peristiwa

- Kata-kata dalam VO, tidak boleh sama dengan sync, jika sama disebut redundant.
- Ketika Stand-Up, akan muncul: identitas Reporter,identitas Stasiun Televisi dan lokasi tempat kejadian
- Stand-Up merupakan “Standard Out Cue” (SoC)
- SOC : tanda akhir dari sebuah berita à disebut juga Pay 0ffKalimat SoC
misalnya:“Ida Bagus Oka, Metro TV melaporkan dari Denpasar Bali…”
- Lamanya Berita Paket: 1 menit 45 detik (maksimum)

Struktur Berita Paket:
Intro dibacakan Anchor ……………………. 10 detik
Voice Over dubbing oleh Reporter .……… 10 detik

Bridge to Sync-1
Sync-1 (korban dari kejadian) ………………… 30 detik
Voice Over dubbing oleh Reporter .……… 10 detik

Bridge to Sync-2
Sync-2 (pihak bertanggung jawab) …………… 30 detik
Sequence tanpa V/O……………………………. 8 detik
Pay off/SOC/VO Penutup ……………..…… 15 detik

Stand-Up ReporterTotal berita paket……………….1.45 menit

Dalam sebuah Berita Paket (package) terdapat:
1. Intro
2. Angle
3. Sequence
4. Voice Over
5. Vox Pop
6. Stand-Up
7. Grafix
8. Nat Sound / Atmosfer

- Intro = kalimat pertama dari berita
- Angle = sisi yang akan diangkat dalam pemberitaan
- Sequence = gambar-gambar yang akan diambil oleh kameramen
- Voice Over = narasi yang akan mengisi tayangan sequence
- Vox Pop = pendapat singkat dari orang-orang tentang peristiwa
- Stand-Up = Reporter berbicara ke Pemirsa menghadap kamera
- Grafix = data-data diluar sequence: gambar, foto, sketsa, peta lokasi, dll.
- Nat Sound = atmosfher, suara alami yang terekam di lokasi kejadian

Jika kita bruntung semua unsur di atas bisa didapat di satu lokasi kejadian Contohnya pada peristiwa Kebakaran atau Penggusuran.

ALUR PERJALANAN BERITA SEBELUM DITAYANGKAN
 Sekembalinya dari lapangan, Reporter harus segera melaporkepada Produser, mengenai berita yang baru saja diliputnya.
 Jika Produser setuju berita itu dibuat menjadi “berita paket”,maka Reporter langsung membuat intro berita.
 Setelah intro selesai, Reporter melakukan preview dan logging(mencatat gambar-gambar yang akan dipakai dan memilih sync)
 Selanjutnya Reporter menulis naskah berita (narasi untuk VO),disesuaikan dengan gambar dan sync yang dipilih Reporter
 Setelah naskah berita (narasi) selesai, Reporter melakukanperekaman suara (dubbing)
 inilah yang disebut voice over
 Terakhir mengedit gambar dan menggabungkannya dengannarasi (mixing), hingga menjadi hasil edit yang siap untukditayangkan, disebut final cut

Senin, 17 Maret 2008

TELEVISI ; Perencanaan Program Televisi

PERENCANAAN PROGRAM Televisi


Dalam perencanaan penayangan program televisi ada 5 acuan dasar yang sangat penting yaitu:
1. Ide
Ide adalah rencana pesan yang akan disampaikan kepada khalayak penonton dengan maksud dan tujuan tertentu, dalam prosesnya ide biasanya tertuang dalam sebuah naskah siaran. Ide juga harus memperhatikan karakteristik penonton, jenis program (news atau entertainment) dan tujuan pesan.
Ide biasanya merupakan buah pikiran dari perencana program yang biasa disebut produser.

2. Pengisi Acara Siaran (Artis)
Pengisi acara program sangat beragam tergantung jenis programnya. Untuk acara talk show dan program berita terdiri dari pembaca berita (news presenter), bintang tamu/ narasumber (artis, tokoh terkenal, masyarakat biasa). Untuk program program sinema televisi atau sinetro, pengisi acara siaran adalah pemeran tokoh-tokoh dalam cerita tersebut.
Proses produksi biasanya memerlukan waktu yang lama, sehingga komunikasi antara kru dan artis harus baik, hal ini untuk menghindari salah persepsi yang bisa mengakibatkan hilangnya mood saat shooting.

3. Peralatan
Dalam sebuah produksi program televisi, minimal peralatan yang digunakan adalah ;
a. Camera dan tripod
b. Lighting
c. Audio
d. Dekorasi (orade, virtual set dll)
e. Video camera recorder (VCR)

4. Kelompok kerja produksi
Merupakan satuan kerja yang akan menangani kerja produksi secara kolektif sampai hasil karyanya dinyatakan layak tayang. Koordinasi antar kru harus baik sehingga mampu menciptakan "one well coordinate unit".
Kelompok kerja produksi terdiri dari :
a. Kru Produksi / siaran ; kepala siaran, produser, pengarah acara, penulis naskah, pembaca
berita, pewawancara, penyiar.
b. Kru Fasilitas Produksi ; decoration designer, graphic designer, penata rias, propertyman,
tukang kayu, pelukis.
c. Kru Operator Teknik ; technical director, lighting man, cameraman, audio man.
d. Kru Engineering ; pemelihara dan perbaikan, instalator alat komunikasi, telecine, VTR man,
pemancar.

5. Penonton / audience
adalah sasaran setiap acara yang disiarkan, penonton merupakan penentu keberhasilan
program tv.

Sumber :
1. "Produksi Acara Televisi", Darwanto Sastro Subroto, Duta Wacana University Press,
Yogyakarta, 1994