Senin, 31 Maret 2008

Model Komunikasi Schramm


Schramm Dalam Riset Sejarah Komunikasi Massa dan Paradigma Jurnalisme

Penulis : Enik Sulistyawati

Sumber : enikkirei.multiply.com

A. BIOGRAFI
Wilbur Schramm mempunyai nama lengkap Wilbur Lang Schramm, seorang pakar komunikasi berparadigma positivistik dari Amerika Serikat. Beliau lahir di Marietta, yakni sebuah kota yang terletak di batas selatan Ohio, yang diberi nama oleh penjajah Perancis pada tanggal 5 Agustus 1907dan meninggal di Honolulu, Hawaii pada tanggal 27 Desember 1987. Leluhur Schramm berasal dari Schrammsburg, Jerman, dan nama Jerman yang didapat Schramm dikarenakan kesulitan keluarganya selama Perang Dunia I, sewaktu Schramm masih anak-anak. Ayahnya adalah seorang pengacara di Marietta, yang membuka praktek legal yang menyedihkan.
Meraih gelar A.B. dari Universitas Marietta (1928), A.M. dari Universitas Harvard (1930) dan Ph.D. dari Universitas Iowa (1932). Schramm mengajar Bahasa Inggris di Iowa (1935-1943), selain itu juga mendasari berdirinya American Prefaces sekaligus sebagai editornya. Menjadi pimpinan the Iowa Writer’s Workshop, bekerja di firm Harcourt Brace dan membantu di federal war information agencies. Beliau memimpin School of Journalism di Iowa (1943-1947). Kemudian menjadi pimpinan program kajian komunikasi massa di Universitas Illinois, Universitas Stanford dan the East-West Center, Universitas Hawaii. Beliau merupakan seorang penulis produktif dan editor di American literature dan Mass Communication.

1. Kegagapan Schramm
Kegagapan menjengkelkan yang diidap oleh Wilbur Schramm sejak ia berumur 5 tahun dikarenakan operasi amandel yang kurang baik. Pidatonya sangat memalukan bagi dirinya dan keluarganya. Sebagai pengidap kegagapan, ayah Schramm mengamati kemenarikan dari anaknya dimana ia bermimpi tentang karirnya dalam hukum dan politik. Kegagapan anak lelakinya sangat traumatik baginya. Ia menghindari berbicara di depan publik. Sebagai ganti dari pidato perpisahan SMA nya, Schramm memainkan The Londonderry Air dengan flutenya. Namun, saat ia lulus cumlaude dari Marietta College pada jurusan sejarah dan ilmu politik pada tahun 1928, ia memberikan pidato perpisahan. Secara berangsur-angsur Schramm belajar hidup dengan kegagapannya, dimana dengan secepat mungkin ia lebih sedikit melafalkan sesuatu. Meskipun demikian, pidato sulitnya memberikan efek di kehidupannya kemudian, yang secara cepat memimpinnya ke dalam bidang komunikasi di karir keduanya.
Saat ia masih kecil, Schramm menunjukkan semangat yang mana dapat mengkarakterisasikan karir sesuai keinginan, kreativitas, kemampuan intelektualnya dan menjadikan ia sebagai master dalam suatu bidang yang baru. Schramm mengajar di Universitas Iowa pada awal tahun 1930-an, ia tidak mengira bahwa sarjana muda yang gagap dapat menjadi seorang pengajar. Namun secepat mungkin, dengan terapi berbicara dan mungkin dengan tumbuhnya ras percaya diri terhadap kemampuan verbalnya, Schramm mengatasi masalah kegagapannya sedikit demi sedikit. Ia menjadikan mengajar adalah karir dalam bagian hidupnya. Dan dalam kehidupan selanjutnya, adakalanya cara bicara yang gagap adalah suatu masalah.
Schramm sulit berbicara namun mudah menulis, dan ia mendapat biaya kuliahnya dengan bekerja paruh waktu sebagai reporter olahraga pada koran Marietta Register dan bekerja di Boston Herald selama ia lulus dari Universitas Harvard, menyelesaikan gelar MA nya di American Civilization pada tahun 1930. Mengapa Schramm meninggalkan Harvard setelah mendapatkan gelar masternya? Uang kuliah di Harvard adalah 500 dollar per semester, dan Schramm mengalami kesulitan financial. Dalam waktu senggangnya di Harvard, ia bekerja enam paruh waktu secara serempak, setelah itu ia dihadiahi beasiswa kelulusan, dan itu sedikit banyak menenangkan financial atau keuangannya, namun ketika bursa saham anjlok hal tersebut menjadi penyebab depresi yang hebat. Alasan lain Schramm pindah ke Universitas Iowa untuk gelar doktornya berkaitan dengan kegagapan yang dialaminya. Salah satu ahli top tentang kegagapan di United States, Profesor Lee Edward Travis, menyelenggarakan penelitian dan pelatihan tentang kegagapan di Iowa. Teorinya tentang penanganan yang salah menjadi faktor kegagapan, sehingga ia mengikat tangan kanan Schramm di sebelahnya, itu tidak menolong.
Travis bekerja tentang kegagapan setelah dipindahkan ke Iowa oleh Wendell Johnson, dan saat itulah ia menjadi penolong Schramm dengan memberikan pengarahan dan terapi. Johnson mengalami kegagapan sejak ia berumur 5 tahun. Kegagapan sering didiagnosa dikarenakan orang tua yang perfeksionis dimana anak mungkin memiliki keraguan yang sungguh-sungguh dan karakteristik pengulangan dari berbicara normal yang dialami kebanyakan anak kecil. Dalam bagian ini, kegagapan adalah definisi penyakit sosial. Lebih lanjutnya, kebanyakan individu jarang gagap bila sedang sendiri tetapi bila hanya bicara face to face dengan orang lain, khususnya dalam situasi tertekan. Johnson memandang kegagapan sebagai sesuatu yang disebut masalah komunikasi. Tentu saja Johnson melewatkan sudut pandang ini terhadap Schramm. Masalah kegagapan Schramm merupakan salah satu alasan bagi Schramm untuk menyukai komunikasi sejak dini.

2. Pasca Sarjana dalam Percobaan Psikologi
Latihan Schramm terhadap kegagapannya membuatnya memunculkan bidang pembelajaran komunikasi dengan teliti dan detail dan memimpin Schramm kedalam percobaan penelitian tentang perilaku berbicara. Tetapi basic Schramm di Iowa adalah humanistic setelah mendapat gelar Ph. D pada literature Inggris pada tahun 1932. Desertasinya dianalisis oleh Henry Wadsworth longfellow’s tentang syair kepahlawanan Hiawatha. Setelah Schramm menerima beasiswa pasca sarjana dari American Council of Learned Societies dan ia tinggal di Iowa untuk dua tahun sekolah pasca sarjananya dengan Profesor Carl E. Seashore pada departemen psikologi. Schramm membentuk laboratorium percobaan tenatang masalah audiologi dan mempelajari percobaan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif.
Fakta bahwa Schramm menyelenggarakan penelitian pasca sarjana dalam bagian yang tidak pernah ia pelajari sebelumnya merupakan pernyataan dari semangat “bisa”-nya. Nampak penuh resiko saat Schram selanjutnya menekuni karir yang bergeser dari literatur Inggris ke pendidikan jurnalisme dan selanjutnya ke bidang baru tentang pembelajaran komunikasi yang ia ciptakan. Karakter semangat Schramm memenuhi kehidupan Schramm dan menjadi salah satu kualitas penting dirinya. Ia dapat melampaui secara luas di berbagai macam bidang. Pada tahun 1960-an, dimana ia sebagai anggota senior fakultas di Stanford, Schramm membeli instruksi diri manual dan mengajarkan dirinya FORTRAN computer program. Schramm menekuni dunia tulis-menulis selama 18 tahunnya di Stanford dengan menggunakan beberapa jenis tulisan elektronik. Hidup Schramm adalah tambang emas dari materi ketertarikan manusia. Wilbur Schramm memiliki kebaikan di hampir semua hal yang ia ambil dari pikirannya. Siapa saja yang mengenalnya dengan baik sering mendeskripsikan Schramm sebagai manusia yang bangkit kembali. Rasa percaya dirinya menunjukkan kualitas penting dari pendirian bidang akademik yang baru.

3. Workshop Penulisan Iowa
Dari tahun 1935 sampai 1942, Schramm menjadi asisten profesor pada jurusan Inggris di Universitas Iowa, dimana ia mencapai ketenaran dengan cepat sebaga direktur dari Workshop Penulis Iowa, beberapa teman dekat yang tergabung dalam kelompok mahasiswa yang telah lulus bekerja bersama Schramm dan beberapa anggota fakultas lain yang memiliki kemampuan yang menguntungkan di dunia menulis fiksi hingga para staff magang yang berpengalaman. Workshop tersebut mengemukakan tentang seminar kelulusan tentang tulisan fiksi yang diajarkan oleh Profesor Edwin Ford Piper untuk beberapa tahun di Universitas Iowa. Piper memberikan kursus pada fokus regional, penekanan budaya Iowa, dalam rangka menyeimbangkan penyimpangan yang kebanyakan terjadi di pesisir timur Amerika.
Pada gaya pengajaran ini, workshop bersifat partisipasi dan akrab. Schramm mengadakan konferensi individu dengan beberapa murid setiap minggu sekali di kantornya. Jika murid terebut menulis sesuatu yang siap dipertimbangkan oleh Schramm, ia harus mempresentasikan di seminar mingguan, yang mana sering diadakan dirumah Schramm. Dalam metode ini, walaupun tidak teratur, Workshop Penulis Iowa merupakan percobaan program doktor dalam komunikasi yang akan diluncurkan oleh Schramm sesudah itu di Iowa, Illinois dan Standford.
Schramm mendapat keuntungan yang pantas dipertimbangkan dengan memiliki reputasi sebagai penulis, artikel majalahnya diterbitkan ulang dalam sebuah kumpulan puisi, ia memenangkan juara tiga pada O.Henry Prize dalam dunia menulis fiksi pada tahun 1942, dan ia menerbitkan buku fiksi, Windwagon Smith and Other Yarns. Dia melanjutkan karirnya sebagai author dan profesor menulis fiksi, namun keadaan ini diselai oleh Perang Dunia ke 2. Schramm memiliki keahlian dalam teori ilmu sosial (social science theory) dan penelitian.

4. Perang Dunia II di Washington D.C.
Perang dunia ke-2 memiliki dampak luar biasa terhadap bidang komunikasi, hal tersebut membawa beberapa sarjana Amerika berpindah ke Eropa seperti Kurt Lewin, Paul F. Lazarsfeld, dan Theodor Adorno, hal inilah yang membuat sarjana Amerika seperti Carl I. Hovland dan Harold D. Laswell ke dalam penelitian komunikasi, dan hal tersebut menghubungkan para sarjana yang mengenalkan bidang pembelajaran komunikasi kedalam jaringan padat. Komunikasi merupakan suatu pertimbangan yang rumit dalam memberi tahukan kepada rakyat Amerika tentang gol perang suatu negara, dan berbagai macam makanan dan jatah gas dan pengorbanan kebutuhan lain dan hal ini memotivasi rakyat untuk membeli surat obligasi perang, untuk menghindarkan pembelian barang-barang sutra dan barang langka lainnya yang ada di pasar gelap, dan untuk memenangkan persaingan, juga mendukung usaha perang lewat jalur lain. Maka dari itu, penelitian komunikasi pada awalnya berpusat untuk mempelajari efek komunikasi. Konsensus ini menjelaskan tentang peran komunikasi selama Perang Dunia ke-2 terjadi, dan hal tersebut sebagian besar terjadi di Washington D.C.

5. Jaringan Ilmuwan Sosial
Selama Perang Dunia ke-2, Washington merupakan tempat bagi ilmuwan-ilmuwan sosial. Beberapa musuh Amerika mewakili kejahatan namun tidak mengurangi ilmuwan sosial yang menentang pernag walau jumlahnya sangat sedikit., khususnya setelah kejatuhan Perancis pada Juni 1940, ketika hal tersebut menjadi nyata bahwa Hitler mendominasi Eropa. Perang Amerika menjadi tujuan bersama para sarjana ini yang akan dating dan membawa mereka bersama kedalam jaringan hubungan yang secara keseluruhan mengakhiri karir mereka. Upaya perang ini menuntut pendekatan interdisiplin, yang sering berpusat pada masalah komunikasi. Perang Dunia ke-2 itu mendukung kondisi untuk pendirian studi komunikasi.
Tidak ada ilmuwan sosial yang tergabung dalam penyelenggaraan penelitian komunikasi pada saat perang yang sudah terlatih dalam studi komunikasi, tidak ada yang bergelar doctor komunikasi yang eksis pada waktu itu. Pemerintahan federal menggunakan penelitian komunikasi pada situasi gawat yang mendekati perang dan bermacam tipe penelitian komunikasi yang dibutuhkan secara detail, seperti misalnya content analysis, survey, dan studi panel. Memorandum ini menjadi dokumen pendirian untuk kemunculan bidang studi komunikasi. Pemerintahan federal berhubungan dengan beberapa tipe penelitian komunikasi selama Perang Dunia ke-2, yang mana masing-masing memiliki konsekuensi jangka panjang dalam bidang studi komunikasi.

6. Visi Schramm dalam Studi Komunikasi
Visi Schramm dibentuk selama 1942, saat ia menjadi direktur divisi pendidikan OFF dan yang terakhir pada OWI. Idenya tentang komunikasi mungkin tumbuh berangsur-angsur melalui kontak setiap hari dengan sarjana lain yang memiliki minat dalam memunculkan bidang komunikasi. Kelompok tersebut mencoba menilai melalui survey mengenai efek dari kegiatan komunikasi yang mereka lakukan terhadap publik. Tujuan utama dari perencanaan ini adalah untuk menyelesaikan kampanye komunikasi dalam skala besar yang dipandu oleh ahli-ahli terbaik yang ada, dengan feedback tentang menyajikan efek dari efek audience.

7. Program Iowa dalam Penelitian Komunikasi Massa
Saat Wilbur Schramm kembali ke kota Iowa, hal itu menjadi suatu kejadian kebetulan bahwa ia sedang mengalami ketegangan di sekolah jurnalistiknya di universitas. Merupakan hal yang aneh saat Schramm diangkat menjadi direktur karena ia tidak pernah punya waktu penuh sebagai jurnalis. Saat itu kebanyakan pengalamannya sebagai reporter atau editor dipertimbangkan sebagai kebutuhan yang esensial untuk ditetapkan menjadi profesor jurnalisme. Schramm tidak memiliki jiwa profesor jurnalisme, dan ia tidak mendapatkan kursus di bidang tulis menulis dan kemampuan editing kapanpun selama karirnya. Ia mengejar visi yang lebih luas dari studi komunikasi dan ia mempertimbangkan dirinya untuk beberapa tahun kedepan berada di sekolah jurnalisme.
Studi komunikasi tumbuh diluar perpustakaan dan ilmu informasi. Sebagai gantinya, Schramm mencocokkan visi studi komunikasinya ke dalam sekolah jurnalisme, hal ini dilakukan untuk membentuk dan menhambat jalur terpenting tentang apa yang dimaksud dengan bidang komunikasi yang akan datang. Inagurasi komunikasi pertama program Ph.D di sekolah jurnalistik adalah merupakan latihan professional yang berorientasi untuk mencetak saluran-saluran komunikasi, secara langsung dipimpin oleh divisi bidang komunikasi kedalam dua subdisiplin : komunikasi massa (mass communication) dan komunikasi antar pribadi (interpersonal communication). Program doctor lain dalam studi komunikasi yang diluncurkan selanjutnya yang berada di jurusan bicara/pidato dan stressing interpersonal interaction. Apalagi, Schramm memiliki gelar doktor di bidang humanistik dan hal tersebut tidak dapat diterima sebagai anggota fakultas suatu jurusan lainya. Sehingga ia meluncurkan disiplin komunikasi baru di sekolah jurnalistik walaupun kurikulum yang ia buat merupakan interdisiplin, menggambarkan tentang kursus dalam bidang psikologi, sosiologi dan ilmu politik.

8. Institut Penelitian Komunikasi
• The Research Division in The University of Minnesota’s School of Journalism, didirikan oleh Ralph Casey dan Ralph O. nafgizer pada tahun 1944 sekembalinya Nafgizer dari kerjanya di OFF/OWI. Ini merupakan pertama kalinya institute penelitian komunikasi berda di sekolah jurnalistik di Amerika.
• Schramm’s Bureau of Audience Research at the University Iowa pada tahun 1946.
• Schramm’s 1947 Institute of Communication Research at the University of Illinois.
• The Mass Communication Research Center at the University of Wincosin, didirikan tahun 1949 oleh Ralph O. Nafgizer setelah ia pindah ke Madison dari Minnesota.
• Chilton bush’s 1955 Insitute for Communication Research at Stanford University, yang mana diarahkan oleh Wilbur Schramm setelah tahun 1957.
• The Communication Research Center at Michigan State University, didirikan oleh Paul J. Deutschmann.
Institut penelitian ini menyajikan latihan magang untuk mahasiswa doktoral komunikasi dan membuatnya mudah untuk memperoleh disiplin ilmu sosial dalam penelitian komunikasi. Sosiolog dan psikolog mungkin lebih sedikit berpartisipasi dalam studi komunikasi jika kebanyakan berasal dari sekolah jurnalistik, dimana ilmuwan sosial yang lain dirasa tidak relevan terhadap minat penelitian mereka. Institut penelitian komunikasi menjadi suatu sumber yang bergengsi bagi sekolah jurnalistik yang mungkin diremehkan oleh ahli dibidang lain karena dianggap tradisi sekolah adalah latihan jurnalistik.
Institut penelitian dapat lebih fleksibel daripada jurusan di universitas. Hal ini lebih mudah dikenalkan daripada jurusan dan institut dapat memfasilitasi gabungan interdisiplin. Oleh karena itu institut merupakan tempat ideal dimana dapat memperkenalkan bidang baru dari studi komunikasi. Tetapi dari segi fleksibelitasnya juga membuat mereka peka, dan banyak dari institute penelitian komunikasi ditemukan pada era Schramm namun sekarang sudah tidak ada dan relative kurang sesuai.
Schramm memainkan peran kunci dalam sejarah studi komunikasi. Ia adalah pendiri dari suatu bidang, orang pertama yang mengidentifikasi dirinya sebagai sarjana komunikasi, ia menciptakan program tingkat akademik pertama dengan menamainya komunikasi, dan ia melatih generasi pertama dari sarjana komunikasi. Schramm memberikan hak terhadap buku Illinois yang membantu memperkenalkan bidang baru tersebut. Program komunikasi massa Schramm di Sekolah Jurnalistik Iowa merupakan proyek percobaan untuk program doktor dan institut penelitian komunikasi yang ia dirikan di 1947 di Urbana. Di Illinois, Wilbur Schramm mengatur pola gerakan dari kerja para sarjana dalam studi komunikasi yang berlanjut hingga hari ini.

9. Penetapan Kajian Komunikasi
Wilbur Schramm (1907-1987) merupakan pendiri bidang studi komunikasi. Tanpa pertanda dari Laswell, Lazarsfeld, Lewin, Hovland, Wiener dan Shanon, komunikasi tidak dapat mencapai sebagai suatu status, tetapi itu karena Schramm. Schramm mendirikan institut penelitian komunikasi di Iowa, Illinois dan Stanford yang mengadakan investigasi kesarjanaan, pelatihan Ph.D komunikasi yang baru dan selalu membawa bidang interdisiplin baru. Institusional komunikasi ini mengijinkan integrasi teori dan metode yang menyerang masalah dalam komunikasi manusia. Schramm sangat krusial dalam pembukaan studi komunikasi di tahun-tahun sesudah Perang Dunia ke-2. ialah orang pertama yang memiliki gelar profesor komunikasi.

10. Kontribusi Schramm dalam Kajian Komunikasi
Wilbur Schramm adalah pendiri studi komunikasi. Beliau dikenal sebagai Bapak Pelembaga kajian komunikasi. Beliau pula yang pertama kali menyebut diri sebagai sarjana komunikasi. Beberapa orang mendirikan bidang ilmu baru harus sesuai dengan visinya. Schramm membentuk visinya pada tahun1942 di Washington D.C, selama Perang Dunia ke-2. Ia kembali ke Universitas Iowa untuk mengenalkan visinya tentang studi komunikasi di sekolah jurnalistik. Selanjutnya penerimaan perspektif ini telah disiapkan oleh Daddy Bleyer, yang merupakan pendidik pelopor jurnalistik di Universitas Wisconsin, dan anak didiknya yang menganut jurnalisme dalam rangka mempertahankan penelitian di universitas-universitas membutuhkan dasar dari ilmu sosial. Studi komunikasi ada san menyebar di seluruh sekolah jurnalistik, sedikitnya di inisial era daripada diterapkan di jurusan komunikasi yang baru dibentuk. Kemudian dengan berangsur-angsur dan tanpa masalah Green-Eyeshades lawan Chi-Squares yang terjadi di jurnalistik, komunikasi juga menyerbu jurusan pidato atau bicara, dan memutarnya jauh dari humanistik dan menjadi retorika selanjutnya. Intisarinya, jurusan komunikasi antar pribadi memiliki orientasi yang kuat kearah psikologi.
Penambahan dari visinya, Wilbur Schramm memiliki kualitas penting untuk mendirikan bidang studi komunikasi. Ia menginvestasikan dalam jangka panjang untuk menerapkan idenya. Schramm adalah orang yang brilliant, penuh ide dan ia berhasil mengarang banyak buku tentang komunikasi massa. Ia memiliki pribadi yang mengasyikkan yang menyerang pelamar doktor dan membiayai penelitian pada institut penelitiannya. Hasil penting yang tidak dapat diragukan dari kerjanya adalah gelar Ph.D dalam komunikasi yang dapat menembus ke seberang dunia setelah dipelajari oleh Schramm dan Stanford untuk menyebarkan konsep studi komunikasi. Schramm memberikan penjelasan spesifik tentang bagaimana mempelajari bidang baru. Ia mempelajari spesialisasi penelitian baru seperti komunikasi internasional, pengembangan komunikasi dan efek televisi terhadap anak-anak.Yang paling penting, Wilbur Schramm menetapkan unit akademik yang pertama yang dinamakan “komunikasi” di Illinois dan selanjutnya di Stanford.
Schramm dikenal sebagai pendokumentasi pemikiran-pemikiran sejumlah ahli seperti Lasswell, Hovland, Shannon dan Weaver, dan sebagainya sebagai teks awal kajian komunikasi. Schramm pernah mengadakan penelitian mengenai Satelit Palapa di Indonesia bersama Go Chu dan beberapa sarjana politik Indonesia, yakni Dr. Alfian, M. Alwi Dahlan, serta pakar-pakar komunikasi generasi awal Indonesia lainnya. Selain itu, Schramm juga berinteraksi dengan sejumlah tokoh komunikasi seperti Elihu Katz dan Gregory Bateson. Kajian komunikasi di Indonesia yang sejak Orde Baru sangat kental mendapat warna dari tradisi yang dikembangkan oleh Schramm.


B. BEBERAPA PEMIKIRAN SCHRAMM
1. Definisi Teori
Dalam buku Introduction to Mass Communication Research (Nafgizer & White, 1972:10) mendefinisikan teori sebagai:
“Suatu perangkat pernyataan yang saling berkaitan, pada abstraksi dengan kadar yang tinggi, dan daripadanya proposisi bisa dihasilkan yang dapat diuji secara ilmiah, dan pada landasannya dapat dilakukan prediksi mengenai perilaku.”
Dari definisi tersebut, sudah jelas bahwa teori merupakan hasil telaah dengan metode ilmiah., yakni metode penyelidikan atau metode pemapanan kebenaran yang menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut:
a. Obyektivitas (objectivity)
Metode ilmiah mencari fakta dengan menganalisis informasi dari dunia nyata (real world), yaitu dunia di luar si ilmuwan yang meneliti. Fakta dipilih bukan karena mendukung keinginan si ilmuwan, namun karena dapat diuji secara berulang-ulang oleh peneliti lain.
Obyektivitas dapat dicapai paling tidak dengan 2 cara, yaitu:
1. Empirisme (empirism)
Mensyaratkan suatu kepercayaan atau proporsisi harus diuji dalam dunia nyata, yakni dunia yang dapat diindera (dilihat, dirasakan, diraba) atau dapat dialami.
2. Logika formal (formal logic)
Mengkaji kondisi-kondisi dimana kepercayaan/proposisi perlu mengikutinya dan karenanya dapat ditarik kesimpulan dari proposisi-proposisi lainnya.

b. Berorientasikan masalah (problem oriented)
Metode ilmiah akan dapat dimulai hanya jika seorang peneliti mengkaji adanya masalah, baik yang praktis maupun teoretis, yang memerlukan keputusan. Masalah seringkali dirumuskan dalam bentuk pertanyaan ”mengapa.........?”. Ini dapat timbul dari rasa penasaran yang sederhana saja atau dari hasrat peneliti untuk menemukan keteraturan di antara fakta/pengamatan, sedemikian rupa sehingga dapat mengerti lingkungannya lebih baik. Menemukan pemecahan mengenai suatu masalah merupakan suatu metode ilmiah yang penting.

c. Dipandu hipotesis (hypothesis guided)
Metode ilmiah dipandu oleh hipotesis. Sebuah hipotesis adalah keterangan/keputusan yang diajukan kepada masalah untuk memulai penelitian. Hipotesis biasanya diformulasikan dalam ungkapan/pernyataan “Jika….,maka….”, yang menyarankan hubungan antara fakta dengan pengamatan. Apabila suatu pengamatan/observasi terbukti benar, maka pengamatan selanjutnya juga harus benar. Ciri hipotesis yang baik adalah :
1. Terpaut (relational)
2. Berdasarkan pengetahuan terdahulu (based on previous knowledge)
3. Verifikasi obyektif (objective verification).

d. Berorientasikan teori (Theory oriented)
Tujuan jangka panjang metode ilmiah adalah merumuskan teori. Teori merupakan seperangkat dalil/prinsip umum yang saling terkait (hipotesis yang diuji berulangkali) mengenai aspek-aspek suatu realitas (Theory is a set of interrealated law or general principles hypothesis that have been repeatedly verivied about some aspect or reality).

e. Korektif mandiri (self-corrective)
Sifat korektif mandiri dari ilmu menyebabkan perlunya bagi ilmuwan untuk memberikan keleluasaan kepada ilmuwan lain dalam bidang yang sama untuk menelitinya secara mendalam. Hal ini bukan saja untuk menyebarkan pengetahuan baru yang menjadi landasan bagi penyelidikan lain, namun juga untuk memungkinkan penggunaan prosedur yang sama dalam situasi yang berbeda. Dalam hal ini nilai tertentu terletak pada publikasi/diseminasi metode, tujuan dan hasil penelitian ilmiah.
Demikian proses terjadinya suatu teori. Teori seringkali dibandingkan-disamakan dan dibedakan-dengan model. Dalam ilmu komunikasi, teori sering dipertukarkan dengan model konvergensi sehingga adakalanya disebut sebagai teori konvergensi, model difusi inovasi dikatakan teori difusi inovasi, teori inokulasi dinyatakan sebagai model inokulasi dan sebagainya.

2.Model Komunikasi
Schramm membuat serangkai model komunikasi, dimulai dengan model komunikasi manusia yang sederhana (1954), lalu model yang lebih rumit yang memperhitungkan pengalaman dua individu yang mencoba berkomunikasi, hingga ke model komunikasi yang dianggap interaksi dua individu.
Model yang pertama mirip dengan model Shannon dan Weaver. Dalam modelnya yang kedua, Schramm memperkenalkan gagasan bahwa kesamaan dalam bidang pengalaman sumber dan sasaran-lah yang sebenarnya dikomunikasikan, karena bagian sinyal itulah yang dianut sama oleh sumber dan sasaran. Model ketiga, Schramm menganggap komunikasi sebagai interaksi dengan kedua pihak yang menyandi, menafsirkan, menyendi-balik, mentransmisikan dan menerima sinyal. Di sini kita melihat umpan balik dan ”lingkaran” yang berkelanjutan untuk berbagi informasi.
Pada model ketiga ini, Schramm bekerjasama dengan Osgood sehingga dikenal sebagai model sirkular Osgood dan Schramm (The Osgood and Schramm Circular Model). Jika model Shannon dan Weaver merupakan proses yang linear, model ini dinilai sebagai sirkular dalam derajat yang tinggi. Perbedaan lainnya ialah apabila Shannon dan Weaver menitikberatkan perhatiannya langsung kepada saluran yang menghubungkan pengirim (sender) dan penerima (receiver) atau dengan kata lain, komunikator dan komunikan. Schramm dan Osgood menitikberatkan pembahasannya pada perilaku pelaku-pelaku utama dalam proses komunikasi. Shannon dan Weaver membedakan source dengan transmitter dan antara receiver dengan distination. Dengan kata lain, dua fungsi dipenuhi pada sisi pengiriman (transmitting) dan pada sisi penerimaan (receiving) dari proses. Pada Schramm dan Osgood ditunjukkan fungsinya yang hampir sama. Digambarkan dua pihak berperilaku sama, yaitu encoding (menyandi), decoding (menyandi-balik) dan interpreting (menafsirkan).

3. Teori-teori Schramm
Beberapa teori yang pernah dikemukakan oleh Wilbur Schramm antara lain:
a. Teori Peluru (The Bullet Theory of Communication)
Teori ini merupakan konsep awal sebagai efek komunikasi massa yang oleh para teoretisi komunikasi tahun 1970-an dinamakan pula hypodemic needle theory yang dapat diterjemahkan sebagai teori harum hipodermik. Teori ini ditampilkan pada tahun 1950-an setelah peristiwa penyiaran kaleidoskop stasiun radio CBS di Amerika berjudul “The Invasion from Mars”.
Pada tahun tersebut, Schramm mengemukakan bahwa seorang komunikator dapat menembakkan peluru komunikasi yang begitu ajaib kepada khalayak yang pasif tidak berdaya.
Namun dalam karya tulisnya yang diterbitkan pada awal tahun 1970-an, Schramm meminta kepada para peminatnya agar teori peluru komunikasi itu dianggap tidak ada, sebab khalayak yang menjadi sasaran media massa itu ternyata tidak pasif.
Pernyataan Schramm tentang pencabutan teorinya itu didukung oleh Paul F. Lazarsfeld dan Raymond Bauer. Lazarsfeld mengatakan bahwa jika khalayak diterpa peluru komunikasi, mereka tidak jatuh terjerembab. Kadang-kadang peluru itu tidak menembus. Adakalanya pula efek yang timbul berlainan dengan tujuan si penembak. Sering pula khalayak yang dijadikan sasaran senang untuk ditembak.

b. Teori Komunis Soviet (Soviet Communist Theory)
Teori-teori komunikasi berlangsung secara berkesinambungan, artinya suatu teori yang digunakan sebagai landasan pemikiran dalam suatu penelitian atau dipakai sebagai pendekatan dalam menelaah suatu fenomena. Bisa merupakan teori lama yang ditampilkan seorang cendekiawan satu dekade sebelumnya, bahkan lebih lama daripada itu.
Tiga orang cendekiawan Amerika, yaitu Fred S. Siebert, Theodore Peterson dan Wilbur Schramm menerbitkan sebuah buku yang berjudul Four Theories of the Press: The Eutoritarian, Libertarian, Social Responsibility, and Soviet Communist Concepts of What the Press Should Be and Do pada tahun 1956. Buku tersebut mengupas empat buah sistem pers yang berlaku di berbagai negara di dunia, yakni Authoritarian Theory (abad 15-16), Liberitarian Theory (abad 17-18),, Soviet Communist Theory (Marxist) dan Social Responsibility Theory (abad ke-20).
Pada awalnya, keempat teori tersebut memang teori pers, namun kemudian seirama dengan perkembangan media massa yang meliputi radio siaran, televisi siaran, film teatrikal, dan lain-lain, maka teori tersebut menjadi teori media massa. Dengan kata lain, teori pers yang semula hanya mengenai pers dalam arti sempit, kini menjadi pengertian pers dalam arti luas, yang jika dikaitkan dengan kegiatannya, tidak hanya jurnalistik cetak tetapi juga jurnalis elektronik.
Fred S. Siebert, Theodore Peterson dan Wilbur Schramm merupakan tokoh pers dunia dan teori-teori pers yang mereka ciptakan menjadi sumber rujukan para praktisi, mahasiswa dan perguruan tinggi. Buku , Four Theories of the Press: The Eutoritarian, Libertarian, Social Responsibility, and Soviet Communist Concepts of What the Press Should Be and Do dimaksudkan untuk menjelaskan perkembangan kondisi pers dunia di masa lampau dan memasuki era pra- perang dingin antara Barat dan Timur.
Pentingnya kedudukan pers demi perdamaian dunia yang demokratis, PBB secara khusus membahas masalah kemerdekaan pers di Geneva, Swis 23 Maret 1948. Prinsip dasar konferensi tersebut adalah adanya pengakuan PBB terhadap kemerdekaan pers sebagai "hak dasar manusia". Sedangkan Pasal 19 Deklarasi Hak Asasi Manusia menjelaskan pula bahwa setiap orang berhak dan bebas mencari, menerima dan menyampaikan informasi dan pendapat dengan cara apapun tanpa memandang batas-batas.
Teori Komunis Soviet (Soviet Communist Theory) dikupas oleh Schramm dengan kacamata Amerika yang orientasinya lain untuk tidak mengatakan bertentangan. Dalam kupasannya tersebut, Schramm mencoba menyelusuri dari akarnya, yakni pemikiran Karl Marx melalui pertumbuhan di zaman Lenin dan Stalin. Seperti diketahui pemikiran Marx dipengaruhi oleh konsep dialektika dari Hegel, dimana kedua kekuatan yang bertentangan (tese dan antitese) mengubah perbedaannya menjadi sintese. Pada gilirannya, sintese ini menjadi suatu tese baru yang ditentang oleh aliran antitese baru yang kemudian menimbulkan sintese baru. Demikian seterusnya sepanjang sejarah.
Schramm mengatakan bahwa sumbangan besar dari Marx adalah penjungkirbalikkan dialektika Hegel. Jadi Marx membuat dialektikanya realistik, kebalikan dari idealistik. Dia menyatakan bahwa kondisi hidup yang bersifat material terutama cara manusia mengelola hidupnya dan jenis kehidupan yang ia kelola untuk menentukan idea manusia. Dengan kata lain, ekonomi, sistem kekuatan produktif dan hubungan produktif merupakan faktor sentral bagi kehidupan manusia, suatu fakta yang menentukan sifat kehidupan masyarakat.
Schramm juga berpendapat bahwa pengawasan terhadap media massa harus berpijak pada mereka yang memiliki fasilitas, sarana percetakan, stasiun siaran, dan lain-lain. Selama kelas kapitalis mengawasi fasilitas fisik ini, kelas buruh tidak akan mempunyai peran pada saluran-saluran komunikasi. Kelas buruh harus mempunyai saluran komunikasi sendiri. Demikian pula kaum buruh harus berpikir bahwa kebebasan pers yang sebenarnya tidak ada kecuali dalam masyarakat tanpa kelas, dimana kelas kerja telah merebut perlengkapan komunikasi dan tidak takut lagi akan pengawasan para pemilik borjuis.

C. KARYA-KARYA SCHRAMM
Sebagai penulis yang produktif, Wilbur Schramm telah berhasil menulis beberapa judul buku, antara lain:
1. Men, Messages and Media (1973).
2. Beginnings of Communication Study in America: A Personal Memoir (April 1997). Ditulis bersama Everett M. Rogers dan Steven H. Chaffee.
3. Four Theories of the Press: The Eutoritarian, Libertarian, Social Responsibility, and Soviet Communist Concepts of What the Press Should Be and Do. Ditulis bersama Theodore Peterson, dan Frederick S. Siebert.
4. Big Media, Little Media: Tools and Technologies for Instruction (Januari 1977).
5. The Science of Human Communication (1963).
6. Story of Human Communication: Cave Painting to Microchip (Januari 1988).
7. Television in the Lives of Our Children (Juni 1961).
8. Responsibility in Mass Communication, 3rd Edition (Januari 1980). Ditulis bersama William Rivers dan Clifford G. Christians.
9. The Process and Effects of Mass Communication (Revised) (Oktober 1971).
10. Communication And Change: The Last Ten Years – And The Next. Sebagai editor bersama Daniel Lerner.
11. International Encyclopedia of Communications (Maret 1989). Ditulis bersama Erik Barnouw, George Gerbner dan Et Al sebagai editor.
12. Messages: A Reader in Human Communication (1974).
13. Wilbur Schramm and the Beginnings of American Communication Theory: A History of Ideas (1988). Merupakan disertasi Ph.D. dari Universitas Iowa.

D. MASALAH PARADIGMA DALAM JURNALISME
Dalam Four Theories of the Press: The Eutoritarian, Libertarian, Social Responsibility, and Soviet Communist Concepts of What the Press Should Be and Do, Schramm dkk. Menjelaskan bahwa keberadaan media massa biasa disikapi dengan dua cara, pertama dipandang sebagai pembentuk (moulder) masyarakat, atau kedua sebagai cermin (mirror) yang memantulkan keadaan masyarakat. Yang pertama bertolak dari paradigma yang menempatkan media sebagai suatu instrumen yang memiliki daya yang kuat dalam mempengaruhi alam pikiran warga masyarakat. Posisi media semacam ini akan melihat keberadaan media massa sebagai faktor penting yang memiliki daya mempengaruhi sasarannya. Sejumlah ahli bahkan merumuskan bahwa setiap komunikasi dengan media massa pada dasarnya berpretensi untuk mengubah sasaran agar sesuai dengan kehendak komunikator.
Paradigma ini menempatkan komunikan sebagai obyek yang pasif, yang dapat diubah dan dibentuk oleh pihak komunikator. Media massa dimaksudkan untuk mewujudkan kepentingan komunikator. Kepentingan ini dapat diartikan secara luas, mulai dari misi keagamaan, ideologi, kekuasaan politik, sampai pragmatis ekonomi . Tradisi media massa di negara komunis dengan jelas dapat dilihat sebagai contoh soal media massa berdasarkan paradigma ini.
Dari uraian sebelumnya, maka dapat kita lihat bahwa Wilbur Schramm menggunakan penelitian empiris, misalnya dengan mendirikan institut penelitian komunikasi di sekolah-sekolah jurnalistik. Wilbur Schramm juga mengadakan survey terhadap tingkah laku murid-muridnya, misalnya dengan seminar mingguan yang dilakukan dirumahnya untuk mengontrol bagaimana perkembangan studi komunikasi yang diterapkan dalam sistem pengajaran. Oleh karena itu paradigma yang dianut oleh Wilbur Schramm adalah positivistik.
Wilbur Schramm menganut paradigma positivistik karena ia telah menemukan suatu hukum alam atau bidang studi baru dalam kehidupan manusia dimana bidang baru tersebut dapat digunakan untuk memprediksi dan mengontrol suatu kejadian atau peristiwa nantinya. Hal ini tertuang dalam contoh bahwa studi komunikasi yang didirikan oleh Wilbur Schramm pada saat terjadinya Perang Dunia ke-2 dimana pada saat itu komunikasi menjadi suatu hal yang sangat krusial untuk memahami masalah peperangan.
Selain itu komunikasi disini dilihat sebagai suatu pola yang sudah ada dan teratur dimana Wilbur Schramm mengkaji lebih dalam dan merumuskan kembali menjadi suatu kajian dan studi baru yang kompleks dan dapat dipelajari. Ditinjau dari penafsiran komunikasi yang didirikan oleh Wilbur Schramm maka komunikasi ini dapat dikatakan valid dikarenakan telah melalui beberapa penelitian, komunikasi juga merupakan penggabungan teori dan metode bukan hasil penafsiran dan pengertian individual saja, buktinya adalah komunikasi dapat dipastikan dan dapat dikaji sesuai dengan teori-teori yang berkaitan dengan komunikasi tersebut.
Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Wilbur Schramm adalah merupakan Administrative Research dimana teori dasar berdirinya komunikasi sifatnya universaldan bisa digunakan dimana-mana untuk menjelaskan suatu fenomena yang terjadi. Komunikasi yang didirikan oleh Wibur Schramm ini berasal dari kajian jurnalistik yang pernah ditekuni oleh Schramm, oleh karena itu pula lah metode yang digunakan Schramm adalah Administrative Research dimana Administrative Research mengkaji tentang media massa yang berguna dan fungsional bagi masyarakat. Hal ini juga dapat terlihat dari usaha Schramm saat pertama masuk dalam sekolah jurnalistik adalah berusaha untuk menciptakan saluran-saluran dan media yang dapat membantu proses, pengenalan dan pengembangan suatu bidang baru yang ditemukannya yang disebut sebagai komunikasi.
Dengan berkembangnya kajian tentang studi komunikasi maka dapat dinilai bahwa ilmu pengetahuan yang didirikan Schramm merupakan ilmu yang bebas nilai, netral dan obyektif. Oleh karena itu Wilbur Schramm disebut juga sebagai Pendiri Bidang Komunikasi dengan menggunakan pendekatan Administrative Research, mengacu pada paradigma Positivistik.

Tidak ada komentar: